KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #29

SIMPUL TERAKHIR

Kekalahan kecil demi kekalahan kecil selama seminggu terakhir, Rudi yang ternyata tidak bersalah, Prawiro yang ternyata punya alibi kuat, pengakuan palsu yang hanya membuang waktu berharga, mulai terasa seperti beban yang menumpuk di pundak Wulan setiap kali ia menutup mata untuk tidur. Ia tahu betul bahaya dari rasa frustrasi semacam itu dalam pekerjaannya: penyidik yang lelah dan putus asa cenderung mencari jalan pintas, memaksakan kepingan yang tidak benar-benar cocok hanya demi merasa kasus itu selesai.

Wulan menghabiskan dua hari penuh mengurung diri di pos ronda bersama Farhan, menyusun ulang seluruh linimasa kasus dari awal, bukan lagi mencari siapa yang paling terlihat bersalah, melainkan siapa yang benar-benar punya tiga hal sekaligus: akses ke racun, akses ke dapur kedai dini hari sebelum kematian Broto, dan alasan yang cukup kuat untuk menginginkan kematiannya.

"Kita sudah mencoret Rudi dan Prawiro dari daftar utama," kata Farhan, menatap papan bukti yang kini lebih terlihat seperti peta jalan buntu dibandingkan solusi. "Tapi semua bukti fisik yang kita punya masih menunjuk ke arah gudang mereka. Racun dari sana, jadwal dari sana. Kalau bukan mereka berdua, siapa lagi yang punya akses ke tempat itu?"

Wulan menatap kembali salinan keterangan Yoga tentang sosok yang dilihatnya berjalan kaki dari arah rumah Prawiro menuju gudang pagi itu. "Yoga bilang dia yakin itu Rudi karena rute dan jamnya cocok. Tapi dia tidak pernah benar-benar melihat wajahnya jelas, kan?"

"Betul, Bu. Dia cuma lihat dari kejauhan, siluet saja."

"Kalau begitu, siapa pun yang berjalan pagi itu tidak perlu benar-benar mirip Rudi. Dia cuma perlu tahu jam berapa Rudi biasa lewat, dan rute mana yang biasa dia pakai." Wulan membuka kembali berkas laporan forensik, membaca ulang detail yang selama ini terasa tidak terlalu penting, serat kain kecil yang ditemukan tersangkut di pagar kawat dekat pintu belakang gudang, terlalu halus untuk kain kerja kasar yang biasa dipakai buruh kebun seperti Rudi. "Ini. Farhan, kirim serat ini untuk diperiksa ulang. Bandingkan dengan bahan pakaian kerja lapangan, dan dengan bahan yang lebih halus, seperti yang biasa dipakai orang yang tidak bekerja di kebun setiap hari."

Hasil pemeriksaan kembali dua hari kemudian: serat itu adalah katun campuran halus, jenis yang biasa digunakan untuk kemeja atau jaket kasual kelas menengah, bukan kain kerja kasar buruh kebun. Temuan kecil itu, dikombinasikan dengan ukuran jejak sepatu yang tercatat di dekat gudang malam pembobolan gubuk Mbah Suto, lebih kecil dari ukuran sepatu Rudi maupun Prawiro, mulai membentuk gambaran yang berbeda dari yang selama ini mereka kejar.

"Bu," kata Farhan, membandingkan ukuran jejak sepatu itu dengan catatan yang mereka kumpulkan selama penyelidikan, "ukuran ini juga tidak cocok dengan Pak Kusumo, kalau kita mempertimbangkan dia. Terlalu kecil bahkan untuk kaki laki-laki dewasa kebanyakan."

Kalimat itu membuat Wulan terdiam, pikirannya melompat ke satu kemungkinan yang selama ini luput dari perhatian mereka, bukan karena tidak masuk akal, melainkan karena orang itu selalu terlihat sebagai korban, sebagai sekutu, sebagai seseorang yang justru membantu mereka mengungkap kejahatan orang lain.

Di tengah kebuntuan itu, Sekar datang sendiri ke pos ronda membawa sesuatu yang selama ini tersimpan di laci terkunci meja kasirnya, sisa kecil bubuk dari kantong yang sama yang ia gunakan untuk menyeduh kopi terakhir Broto, yang belum sempat ia serahkan sebagai barang bukti karena baru menyadari maknanya semalam.

"Saya sudah pikirkan ini berulang-ulang, Bu," katanya, meletakkan kantong plastik kecil berisi sisa bubuk di atas meja. "Ada yang aneh dari bubuk ini, dan saya baru sadar apa setelah membandingkannya lagi tadi malam."

Wulan mengangkat alis, menunggu penjelasan lebih lanjut.

Lihat selengkapnya