KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #30

KONFRONTASI TERAKHIR

Perjalanan menuju kediaman Kusumo sore itu terasa berbeda dari kunjungan-kunjungan sebelumnya. Wulan tidak membawa banyak dokumen kali ini, tidak menyiapkan daftar pertanyaan panjang seperti biasa, hanya satu map tipis berisi hasil laboratorium serat kain dan jejak sepatu, serta keyakinan yang perlahan mengeras di dadanya sepanjang perjalanan.

"Bu, apa kita perlu bawa surat perintah dulu?" tanya Farhan, menyetir pelan-pelan di jalan menanjak menuju sisi barat Kalisumur.

"Belum ada cukup bukti untuk penangkapan resmi," jawab Wulan. "Tapi cukup untuk sebuah percakapan yang jujur. Kadang itu yang paling ampuh, Farhan, memberi kesempatan pada seseorang untuk mengaku sebelum bukti memaksa mereka melakukannya dengan cara yang lebih buruk."

"Saya masih agak sulit percaya, Bu," kata Farhan, matanya tetap fokus ke jalan. "Larasati selalu terlihat begitu... lembut. Suka membantu anak-anak, suka bicara soal keadilan untuk petani kecil."

"Saya juga sempat berpikir begitu," jawab Wulan, menatap ke luar jendela. "Tapi ingat kata Sekar soal gilingan tangan yang tidak rata itu? Nona Sekar bilang, siapa pun yang menggiling kopi itu jarang melakukannya sendiri, tapi cukup terampil pakai tangan untuk hasil yang meski tidak sempurna, tetap rapi dibandingkan orang awam yang benar-benar baru pertama kali mencoba. Larasati sendiri yang bilang ke saya, waktu saya kunjungi gubuknya dulu, bahwa dia lebih suka mengerjakan segala sesuatu dengan tangan daripada alat modern. Waktu itu saya cuma anggap itu detail manis soal karakternya. Sekarang, detail yang sama terasa seperti konfirmasi."

Farhan terdiam, menyerap implikasi itu. "Jadi bahkan hal sekecil itu bisa jadi petunjuk."

"Justru hal-hal kecil yang paling jujur, Farhan," kata Wulan. "Orang bisa berbohong soal alibi, soal motif, soal segalanya yang mereka sadari penting. Tapi kebiasaan tangan, cara seseorang tumbuh dan terbiasa mengerjakan sesuatu sejak kecil, itu jauh lebih sulit disembunyikan, karena mereka bahkan tidak menyadari itu sedang mereka tunjukkan."

Rumah keluarga Kusumo tampak berbeda ketika Wulan dan Farhan tiba sore itu, pagar hijau tua yang biasa terbuka lebar kini setengah tertutup, dan tidak ada tanda-tanda kehadiran Pak Kusumo di halaman seperti biasanya. Seorang pembantu rumah tangga membukakan pintu dengan wajah cemas, mengatakan bahwa Larasati sedang berada di kebun belakang, di area penjemuran kopi yang jarang dikunjungi tamu.

Wulan menemukannya sendirian di antara para-para bambu tempat biji kopi dijemur, berdiri membelakangi jalan masuk, tangannya sibuk membolak-balik biji-biji kopi yang tersebar di atas terpal meski hari sudah menjelang senja dan matahari nyaris tidak lagi cukup untuk mengeringkan apa pun.

"Larasati," panggil Wulan, suaranya tenang namun tegas.

Larasati menoleh, dan dalam sepersekian detik sebelum ia sempat menata ekspresinya, Wulan melihat sesuatu yang selama ini tersembunyi rapi di balik wajah penuh penyesalan yang selalu ia tunjukkan, sebuah kewaspadaan dingin, cepat menghitung, cepat menilai seberapa banyak yang sudah diketahui orang di hadapannya.

Lihat selengkapnya