KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #31

PENANGKAPAN


Proses penangkapan Larasati Kusumo berlangsung tenang, hampir terlalu tenang untuk sesuatu yang akan mengguncang seluruh Kalisumur dalam hitungan jam setelah kabar itu menyebar. Ia tidak melawan, tidak mencoba kabur seperti Rudi beberapa malam sebelumnya, ia hanya berdiri diam di antara para-para penjemuran kopi, membiarkan Farhan memasangkan borgol di pergelangan tangannya sambil menatap kosong ke arah rumah yang sudah ia tinggali sepanjang hidupnya.

Ada sesuatu yang menyayat dalam ketenangan itu, pikir Wulan sambil mengawasi proses tersebut, bukan ketenangan orang yang tidak merasa bersalah, melainkan ketenangan seseorang yang sudah lelah menanggung beban kebohongan sendirian, dan entah bagaimana, penangkapan ini justru terasa seperti kelegaan yang menyakitkan baginya.

Pak Kusumo, yang baru pulang dari kebun tepat ketika mobil patroli hendak berangkat, berlari mendekat dengan wajah tidak percaya, memanggil nama putrinya berkali-kali seperti berharap panggilan itu bisa mengubah apa yang sedang terjadi di depan matanya.

"Ini pasti kesalahan, Bu Detektif," katanya, suaranya bergetar hebat. "Larasati tidak mungkin, dia anak yang baik, dia yang selalu membela orang-orang lemah di desa ini, "

"Pak Kusumo," kata Wulan, nadanya melunak meski tetap tegas, "saya juga berharap ini kesalahan. Tapi pengakuannya sendiri, ditambah bukti yang kami kumpulkan, tidak menyisakan ruang untuk keraguan lagi. Saya turut prihatin."

Larasati menoleh sekali kepada ayahnya sebelum dimasukkan ke dalam mobil patroli, matanya penuh penyesalan yang datang terlambat. "Maaf, Ayah," katanya pelan, hampir tidak terdengar di tengah isak yang mulai pecah dari Pak Kusumo sendiri. "Saya cuma ingin melindungi kita. Saya cuma tidak tahu caranya selain ini."

Lihat selengkapnya