KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #32

RUANG SIDANG

Ruang sidang Pengadilan Negeri di kota kecamatan tidak pernah dirancang untuk menampung kerumunan sebesar yang hadir pada sidang pembacaan dakwaan Larasati Kusumo. Bangku-bangku kayu yang biasanya hanya diisi beberapa orang dalam kasus-kasus sengketa tanah kecil, kini penuh sesak oleh warga Kalisumur yang datang berbondong-bondong menaiki dua bus sewaan, ditambah wartawan dari beberapa media lokal yang mencium potensi berita besar dari sebuah desa kecil di kaki Gunung Raung.

Sekar duduk di barisan ketiga, di antara Danu dan Mbah Suto, tangannya gemetar memegang tas kecil berisi salinan catatan ayahnya yang, atas permintaan jaksa penuntut, akan turut dijadikan bukti pendukung soal pola lama kecurangan panen di Kalisumur. Ia menatap Larasati yang duduk di kursi terdakwa, mengenakan kemeja putih sederhana, rambutnya diikat rapi, wajahnya jauh lebih pucat dan kurus dibandingkan terakhir kali Sekar melihatnya di antara para-para penjemuran kopi.

Jaksa penuntut umum, seorang perempuan paruh baya dengan suara tegas yang menggema di ruangan, membacakan dakwaan dengan rinci, kronologi pembelian pestisida ilegal, rekonstruksi rute yang ditempuh Larasati dini hari itu, dan yang paling membuat ruangan hening total, pemutaran rekaman pengakuan Larasati yang direkam Wulan saat konfrontasi di kebun keluarga Kusumo.

Ketika giliran pembelaan, pengacara Larasati, seorang lelaki muda yang ditunjuk pengadilan karena keluarga Kusumo tidak sanggup membiayai pengacara swasta setelah dana mereka terkuras untuk proses hukum, berargumen bahwa kliennya bertindak di bawah tekanan ekstrem, korban pemerasan yang sistematis, dan tidak pernah punya niat jahat terhadap siapa pun sebelum Broto Handoyo mengancam kehancuran total keluarganya.

"Klien saya bukan penjahat berdarah dingin, Yang Mulia," katanya, suaranya penuh keyakinan meski usianya yang muda terlihat jelas dari cara ia sesekali merapikan kertas-kertasnya dengan gugup. "Klien saya adalah korban dari sistem yang sama yang selama ini menindas hampir seluruh warga Kalisumur, sistem yang mengajarkan bahwa kekuasaan dan uang bisa membeli kesalahan apa pun, dan bahwa orang-orang kecil yang tidak punya kekuatan itu harus mencari jalan mereka sendiri untuk bertahan, betapa pun kelirunya jalan itu pada akhirnya."

Ketika akhirnya diberi kesempatan bicara, Larasati berdiri dengan tangan gemetar, menatap ke arah barisan penonton, matanya sempat berhenti sejenak pada sosok ayahnya yang duduk di barisan depan dengan kepala tertunduk.

Lihat selengkapnya