KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #33

BU WENING

Di balik semua sorotan yang tertuju pada Prawiro Sedayu selama persidangan, jarang ada yang memikirkan seseorang yang duduk paling belakang di ruang sidang setiap hari, mengenakan kerudung gelap yang menutupi sebagian wajahnya, tidak pernah bicara dengan wartawan yang berkali-kali mencoba mewawancarainya di luar gedung pengadilan, Bu Wening, istri Prawiro, yang selama lebih dari dua puluh tahun pernikahannya percaya bahwa suaminya adalah pengusaha sukses yang membangun kekayaannya lewat kerja keras semata.

Sekar bertemu dengannya secara tidak sengaja, beberapa minggu setelah sidang berakhir, di sebuah warung kecil di pinggir kota kecamatan tempat Sekar singgah membeli bahan-bahan untuk kedai. Bu Wening duduk sendirian di sudut, wajahnya pucat dan kurus, jauh berbeda dari sosok anggun yang dulu sesekali terlihat mengunjungi gudang Sedayu mengendarai mobil mengkilap.

"Nona Sekar," sapanya pelan, mengenali Sekar dari foto-foto yang beredar selama persidangan. "Boleh saya duduk sebentar bersama Anda? Saya... saya jarang punya orang untuk diajak bicara belakangan ini."

Sekar mengangguk, meski merasa canggung, bagaimana pun, perempuan di depannya ini adalah istri dari orang yang selama berminggu-minggu menjadi pusat kemarahan seluruh Kalisumur.

"Saya tidak tahu apa-apa, Nona Sekar," kata Bu Wening, suaranya bergetar menahan tangis. "Orang-orang di luar sana pikir saya pasti tahu, pasti ikut menikmati semua uang yang didapat dari cara-cara curang itu. Tapi saya sungguh-sungguh tidak tahu. Suami saya selalu bilang, urusan gudang bukan urusan saya, cukup saya urus rumah dan anak-anak. Saya percaya begitu saja, selama lebih dari dua puluh tahun."

Lihat selengkapnya