KOPI DAN RACUN: Kebenaran Ditulis Oleh Para Penguasa

Nuryono
Chapter #35

KOPI YANG BARU

Tiga bulan setelah persidangan Larasati Kusumo dimulai, dengan vonis yang diperkirakan akan dijatuhkan dalam beberapa minggu ke depan, Kalisumur sudah jauh berbeda dari desa berkabut yang menyimpan begitu banyak rahasia di balik ketenangannya. Kedai Embun Pagi mengadakan sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya di desa itu: peluncuran racikan kopi baru, hasil kolaborasi hampir semua kebun kecil di desa, termasuk sepetak kecil milik Mbah Suto yang baru mulai ia tanami kembali setelah puluhan tahun dibiarkan liar.

Persiapan hari itu memakan waktu berminggu-minggu. Sekar mengumpulkan sampel biji dari setiap kebun yang bersedia berkontribusi, menyangrai dan mencicipi setiap kombinasi dengan telaten seperti seorang seniman yang tidak mau terburu-buru menyelesaikan karyanya, sampai akhirnya menemukan perpaduan yang menurutnya benar-benar mewakili apa yang ingin ia sampaikan, bukan satu rasa dominan yang menutupi yang lain, melainkan harmoni dari banyak karakter berbeda yang saling melengkapi.

Malam sebelum peluncuran, Danu menemaninya begadang di dapur kedai, membantu menakar dan mencampur batch terakhir sambil sesekali menciumi aroma yang berubah setiap kali proporsi digeser sedikit. "Kamu terlalu perfeksionis soal ini," katanya sambil tertawa, melihat Sekar mengulang campuran untuk ketujuh kalinya malam itu.

"Ini bukan cuma soal rasa, Danu," jawab Sekar, serius. "Ini soal bagaimana kita ingin Kalisumur diingat setelah semua ini. Saya tidak mau buru-buru cuma demi mengejar tanggal peluncuran."

Sekar menamainya "Racikan Kalisumur Bersama," menggabungkan biji dari kebun keluarga Prasetyo, kebun-kebun kecil yang dulu tercekik sistem gudang tunggal, dan bahkan beberapa kilogram dari lahan yang mulai dikembalikan lewat proses hukum kepada keluarga-keluarga yang dulu kehilangan tanahnya. Setiap kemasan racikan itu dijual dengan label yang mencantumkan nama setiap kebun penyumbang, sesuatu yang tidak pernah dilakukan sistem lama yang hanya menjual kopi dengan satu label besar: "Kalisumur Premium," tanpa pernah benar-benar jujur soal dari mana asalnya.

"Ini pertama kalinya kita benar-benar tahu persis kopi siapa yang kita minum," kata Danu, membantu Sekar menata kemasan-kemasan kecil di rak depan kedai, senyumnya lebih lepas dibandingkan yang pernah Sekar lihat sejak semua kekacauan ini dimulai.

Farhan datang bersama beberapa warga lain sore itu, kali ini benar-benar sebagai tamu tanpa embel-embel tugas kepolisian, membeli tiga kemasan sekaligus untuk dikirim ke keluarganya di kota. "Ibu saya pasti suka ini," katanya sambil membaca label kecil yang mencantumkan nama-nama kebun penyumbang. "Dia selalu bilang, kopi paling enak itu yang ada ceritanya, bukan cuma yang mahal."

Mbah Suto juga hadir, duduk di bangku favoritnya seperti biasa, menatap tumpukan kemasan kopi baru itu dengan mata berkaca-kaca. Salah satu label bertuliskan namanya sendiri sebagai penyumbang, huruf-huruf kecil yang, baginya, terasa seperti pengakuan yang tidak pernah ia bayangkan akan ia terima setelah tiga puluh dua tahun.

Lihat selengkapnya