Setahun setelah peluncuran Racikan Kalisumur Bersama, Kedai Embun Pagi tidak lagi menjadi satu-satunya tempat di Kalisumur yang menjual kopi olahan sendiri. Dua kedai kecil lain telah bermunculan di sepanjang jalan utama desa, masing-masing dikelola oleh keluarga petani yang dulu hanya mengenal kopi sebagai komoditas mentah untuk dijual, sebuah perkembangan yang, menurut Sekar, adalah bukti paling nyata bahwa perubahan yang mereka rintis benar-benar berakar, bukan sekadar euforia sesaat setelah skandal besar mereda.
Koperasi Kopi Bersama Kalisumur kini beranggotakan hampir enam puluh keluarga, dengan Danu sebagai salah satu pengurus tetap yang mengurus hubungan dengan pembeli di luar kota. Perdebatan soal harga masih terjadi setiap bulan dalam rapat rutin mereka, kadang cukup sengit hingga beberapa kali nyaris membuat sejumlah anggota keluar, tapi setiap kali itu terjadi, selalu ada yang mengingatkan bahwa berdebat secara terbuka, meski melelahkan, jauh lebih baik daripada dipaksa diam seperti sistem lama.
Namun belakangan ini, sesuatu yang lebih halus mulai mengganjal pikiran Sekar setiap kali ia menghadiri rapat koperasi. Tiga keluarga besar dalam koperasi, yang kebetulan memiliki lahan paling luas di antara enam puluh anggota, perlahan mulai menguasai kursi-kursi penting dalam struktur pengurus, bukan lewat kecurangan yang jelas, melainkan lewat cara yang jauh lebih wajar: mereka yang paling punya waktu luang untuk menghadiri rapat, paling fasih bicara di depan umum, paling mudah dipercaya karena sudah dikenal lama. Danu sendiri, tanpa benar-benar menyadarinya, mulai lebih sering mengambil keputusan cepat atas nama efisiensi, terutama untuk urusan negosiasi harga dengan pembeli besar yang tidak sabar menunggu musyawarah panjang.
"Kamu ingat waktu kita berdebat soal ini, di rapat pertama?" tanya Sekar suatu malam, ketika mereka berdua menghitung ulang pembagian hasil bulan itu di dapur kedai. "Soal supaya tidak ada satu keluarga pun yang menguasai keputusan sendirian?"
"Saya ingat," jawab Danu, agak defensif. "Dan kita masih berpegang pada itu, Sekar. Semua keputusan besar tetap lewat musyawarah."
"Saya tahu maksudmu baik," kata Sekar pelan, memilih kata-katanya hati-hati. "Tapi saya juga ingat, Prawiro dulu juga tidak pernah merasa dirinya jahat. Dia pikir dia cuma 'lebih efisien,' 'lebih pintar bermain dalam sistem.' Saya bukan bilang kamu sama dengannya, Danu. Saya cuma... saya cuma tidak mau kita terlalu yakin bahwa niat baik saja cukup untuk mencegah sejarah terulang."
Danu terdiam lama, tidak langsung membantah, seperti sedang benar-benar mempertimbangkan kemungkinan yang tidak ingin ia akui. "Jadi menurutmu kita harus bagaimana?"
"Saya tidak tahu jawaban pastinya," jawab Sekar jujur. "Mungkin cuma soal terus bertanya, terus curiga pada diri sendiri, bahkan waktu semuanya terasa berjalan baik-baik saja. Mbah Suto pernah bilang, kebenaran ditulis oleh siapa yang berkuasa. Saya cuma tidak mau kita berhenti mempertanyakan siapa yang berkuasa sekarang, cuma karena kita percaya kita orang baik."