Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #2

bab 2

Pagi berikutnya, Langit Jakarta masih mendung. Laras tiba di kedai pukul setengah tujuh, membawa tas ransel lusuh dan dua kantong plastik berisi roti tawar serta susu untuk stok. Dia baru saja membuka pintu ketika Rina datang dengan wajah cerah.

“Eh Lar, semalam ada yang spesial ya? Kamu senyum-senyum sendiri pas nutup kedai.”

Laras mendengus. “Nggak ada apa-apa. Cuma pelanggan biasa.”

“Pelanggan biasa yang pesen Americano pahit dan kasih tips gede?” Rina nyengir lebar. “Aku lihat dari CCTV loh, tangannya kelihatan mahal banget. Jam tangannya doang pasti bisa bayar sewa kita sebulan.”

“Rina, fokus kerja,” Laras menggelengkan kepala sambil tersenyum. Tapi dalam hati ia mengakui, pria bernama Arkan itu memang berbeda dari pelanggan biasa yang datang ke Laras Kopi.

Sepanjang pagi, kedai ramai oleh karyawan kantor sekitar yang mampir sebelum masuk kerja. Laras sibuk membuat flat white, cappuccino, dan beberapa iced latte. Tapi setiap kali bel pintu berdering, matanya tanpa sadar melirik ke arah masuk.

Jam menunjukkan pukul 08.15 ketika Arkan akhirnya datang.

Kali ini ia tidak membawa payung. Jasnya rapi, rambutnya tertata dengan baik, dan aroma parfum mahal samar-samar tercium saat ia mendekat ke counter. Matanya langsung bertemu dengan Laras.

“Pagi,” sapanya singkat.

“Pagi, Mas Arkan,” balas Laras, berusaha terdengar biasa saja. “Americano hot tanpa gula, kan?”

Arkan mengangkat sebelah alis, tampak sedikit terkejut. “Hafal?”

Laras tersenyum kecil. “Kemarin cuma satu pelanggan yang pesan itu. Susah dilupakan.”

Arkan tidak tersenyum, tapi sudut bibirnya bergerak sedikit — hampir seperti senyuman. “Benar. Sama seperti kemarin.”

Laras langsung bergerak. Tanganannya lincah menggiling biji kopi, menyiapkan shot espresso, dan menuang air panas dengan presisi. Dalam waktu kurang dari tiga menit, cangkir hitam sudah terhidang di depan Arkan.

“Ini, Mas. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin.”

Arkan mengambil cangkir itu, menyesap pelan, lalu mengangguk. “Masih enak. Kamu memang jago.”

Lihat selengkapnya