Pagi ketiga Arkan datang, Laras sudah siap dengan secangkir Americano pahit yang baru diseduh. Aroma kopi Gayo yang kuat langsung memenuhi udara kedai begitu mesin espresso berbunyi nyaring. Laras tersenyum kecil saat melihat siluet tinggi itu muncul dari balik pintu kaca yang masih berembun karena hujan semalam.
“Pagi, Mas Arkan,” sapa Laras sebelum pria itu bahkan mencapai counter. “Americano hot tanpa gula, extra shot hari ini biar semangat kerja.”
Arkan berhenti sejenak di depan counter, alisnya terangkat sedikit. Untuk pertama kalinya, Laras melihat ekspresi terkejut yang lebih jelas di wajahnya. Biasanya pria itu hanya mengangguk dingin atau mengucapkan “sama seperti kemarin”.
“Kamu hafal pesananku sampai extra shot?” tanyanya, suaranya rendah tapi ada nada geli yang samar.
Laras mengangkat bahu sambil menaruh cangkir di atas piring kecil. “Kamu pelanggan tetap sekarang. Lagian, kemarin kamu kelihatan capek banget pas pulang. Extra shot buat nambah energi.”
Arkan menerima cangkir itu, jari-jarinya yang panjang dan rapi hampir bersentuhan dengan tangan Laras. Hanya sepersekian detik, tapi Laras merasa ada getaran kecil di ujung jarinya. Ia cepat menarik tangan dan pura-pura sibuk mengelap counter.
“Terima kasih,” kata Arkan pelan. Ia tidak langsung pergi ke meja pojok seperti biasa. Kali ini ia duduk di stool tinggi tepat di depan counter, laptopnya dibuka perlahan. “Hari ini sepi ya?”
Laras melirik jam dinding. Baru pukul 07.45, tapi memang belum banyak pelanggan. “Biasa pagi Senin. Orang-orang masih males gerak setelah weekend. Kamu sendiri nggak meeting pagi?”
Arkan menyesap kopinya, matanya masih tertuju ke layar laptop tapi sesekali melirik Laras. “Meeting pertama jam sepuluh. Aku sengaja datang lebih awal hari ini.”
“Kenapa?” tanya Laras tanpa sadar, lalu buru-buru menambahkan, “Maksudku… biasanya kamu datang jam delapan lewat.”
Arkan tersenyum tipis — senyuman pertama yang benar-benar Laras lihat darinya. Senyuman itu membuat wajahnya yang biasanya kaku jadi jauh lebih lembut. “Karena kopinya enak. Dan… obrolannya juga.”
Laras merasa pipinya menghangat. Ia berbalik pura-pura mengatur gelas-gelas di rak belakang supaya Arkan tidak melihat wajahnya yang memerah. Rina yang sedang menyusun roti di etalase langsung nyengir lebar ke arah Laras, tapi Laras memberi kode mata “diam” yang tegas.
Sepuluh menit kemudian, kedai mulai ramai. Beberapa karyawan kantor datang beriringan, memesan latte dan croissant. Laras dan Rina bekerja cepat. Arkan tetap duduk di tempatnya, sesekali mengetik di laptop, tapi Laras merasa pria itu sedang memperhatikan gerak-geriknya.
Saat ada jeda sepi, Arkan menutup laptopnya dan bertanya, “Boleh tanya sesuatu?”
Laras yang sedang menuang susu untuk pesanan berikutnya mengangguk. “Boleh. Apa?”
“Kedai ini milikmu sendiri?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi Laras merasa ada beban di dada. Ia meletakkan pitcher susu pelan-pelan. “Iya. Awalnya cuma mimpi doang. Dua tahun lalu aku buka dengan tabungan sendiri plus pinjaman kecil dari bank. Awalnya ramai, tapi… ya gitu deh. Jakarta keras.”
Arkan mengangguk pelan, seolah mengerti. “Kamu sendirian ngurus semuanya?”
“Ada Rina,” Laras menunjuk sahabatnya dengan dagu. “Tapi ya, sebagian besar aku yang handle. Dari beli biji kopi, bayar listrik, sampai ngurus izin usaha yang ribet itu.”
Arkan diam sejenak, menyesap kopinya lagi. “Mesin espressonya kemarin sempat bermasalah kan? Kalau kamu izinkan, aku bisa panggil teknisi temanku. Dia spesialis mesin kopi, harganya nggak mahal.”
Laras menggigit bibir bawah. Tawaran itu menggoda, tapi harga dirinya langsung bangkit. “Mas, aku nggak mau merepotkan. Aku masih bisa atur sendiri kok.”
“Bukan merepotkan,” balas Arkan cepat. “Aku cuma… lihat kamu kerja keras. Kalau mesin rusak, kedaimu bisa sepi lebih lama. Itu rugi buat kamu.”
Laras menatap pria di depannya itu lama. Arkan tidak terlihat seperti orang yang suka ikut campur urusan orang lain. Matanya serius, tapi ada kelembutan yang jarang ia lihat di pria-pria kota besar.