Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #4

bab 4

Pagi berikutnya, Laras datang ke kedai lebih awal dari biasanya. Jam menunjukkan pukul 06.40 ketika ia membuka pintu kaca. Udara pagi masih dingin, sisa hujan semalam membuat trotoar di depan kedai basah mengkilap. Ia langsung menyalakan mesin espresso yang sudah diperbaiki Arkan semalam. Suara mesin yang halus dan stabil membuatnya tersenyum kecil.

“Kerja bagus, Mas Arkan,” gumamnya sendiri sambil mengelus mesin itu seperti teman lama.

Rina datang pukul tujuh lewat, membawa tas besar berisi bahan roti baru. “Wah, Laras pagi-pagi sudah senyum-senyum. Ada apa nih? Mimpi ketemu pangeran kopi?”

Laras melempar kain lap ke arah Rina. “Kerja sana. Hari ini kita coba menu baru. Croissant isi cokelat almond.”

“Wah, ide dari siapa? Jangan-jangan dari calon suami Laras Kopi?” goda Rina sambil nyengir lebar.

“Rina!” Laras memelotot, tapi pipinya memerah. “Dia cuma bantu bisnis. Nggak lebih.”

“Ya ya, ‘cuma bantu bisnis’,” Rina mengedipkan mata. “Tapi kemarin malam dia sampe jam berapa di sini? Aku lihat dari story WA-mu, lampu kedai masih nyala jam delapan lewat.”

Laras tidak menjawab. Ia sibuk mengatur display roti di etalase supaya terlihat lebih menarik. Dalam hati ia mengakui, semalam memang terasa berbeda. Arkan tidak hanya membaca kontrak sewa, tapi juga memberi beberapa catatan kecil di kertas post-it kuning. Tulisannya rapi, hurufnya tegas, dan sarannya masuk akal.

Jam 07.55, bel pintu berdering pelan.

Arkan masuk dengan langkah mantap. Hari ini ia memakai kemeja biru dongker lengan digulung, dasi longgar, dan tas laptop hitam di tangan. Wajahnya segar, seolah semalam tidur cukup nyenyak.

“Pagi,” sapanya langsung ke Laras. Matanya melirik mesin espresso sebentar. “Mesinnya sudah normal?”

“Normal banget. Bahkan lebih halus dari sebelumnya,” jawab Laras sambil tersenyum. “Terima kasih ya, Mas. Dan terima kasih juga buat teknisinya.”

Arkan mengangguk kecil. “Sama-sama. Americano seperti biasa?”

“Iya. Extra shot lagi hari ini?” tanya Laras sambil sudah mulai menggiling biji kopi.

Arkan tersenyum tipis. “Kamu yang tahu.”

Laras merasa jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia cepat sibuk dengan pekerjaannya. Beberapa menit kemudian, cangkir hitam yang mengepul sudah berada di tangan Arkan.

Hari itu kedai cukup ramai. Arkan tidak duduk di pojok lagi. Ia memilih meja bundar di dekat counter supaya bisa bicara dengan Laras saat ada jeda. Saat Laras sedang istirahat sebentar setelah melayani lima pelanggan berturut-turut, Arkan membuka laptop dan menunjukkan layarnya ke Laras.

“Aku buat draft rencana promosi sederhana semalam,” katanya. “Mau lihat?”

Laras mendekat, berdiri di samping Arkan. Aroma parfum pria itu samar-samar tercium — campuran kayu cedar dan citrus yang segar. Ia berusaha fokus ke layar.

Arkan menjelaskan dengan suara tenang dan terstruktur:

“Pertama, kita buat loyalty program yang lebih menarik. Bukan cuma stamp card biasa. Tiap beli lima kali, dapat satu minuman gratis ukuran besar. Kedua, kolaborasi dengan komunitas kopi di Kemang. Kita bisa adain coffee tasting session gratis tiap Jumat sore. Ketiga, foto-foto kedai yang aesthetic buat Instagram. Aku bisa bantu ambil foto profesional kalau kamu mau.”

Laras mendengarkan dengan mata sedikit melebar. Semua ide itu masuk akal dan tidak membutuhkan modal besar.

“Mas Arkan… ini terlalu detail. Kamu bikin semalam?”

Arkan mengangguk. “Nggak butuh waktu lama. Aku biasa bikin strategi marketing untuk klien. Ini cuma versi mini.”

Laras menatap pria di depannya dengan perasaan campur aduk. “Kenapa kamu bantu aku sebanyak ini? Kita baru kenal beberapa hari.”

Arkan menutup laptop pelan, lalu menatap Laras langsung. “Karena aku suka cara kamu berjuang. Banyak orang di Jakarta cuma mengeluh, tapi kamu masih buka kedai setiap hari meski berat. Itu langka.”

Lihat selengkapnya