Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #5

bab 5

Pagi itu Laras Kopi terasa lebih hidup dari biasanya. Matahari baru muncul di balik gedung-gedung Kemang, menyinari trotoar yang masih basah oleh sisa hujan semalam. Laras sudah datang sejak pukul enam pagi. Ia menyapu lantai, mengelap meja-meja, dan menata ulang etalase roti dengan lebih rapi. Entah kenapa, hari ini ia ingin kedai terlihat lebih cantik.

Rina datang sambil membawa dua gelas es teh manis dari warung sebelah. “Wah, Laras pagi-pagi sudah dandan hati. Ada angin apa nih?”

Laras tertawa kecil sambil menyusun cangkir-cangkir di rak. “Biasa aja. Hari ini kita mau foto-foto buat Instagram, katanya.”

“Oh iya! Si calon suami marketing datang bawa kamera ya?” Rina langsung nyengir lebar. “Aku siap jadi model cadangan loh.”

“Rin, jangan mulai deh,” Laras menggelengkan kepala, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan.

Pukul 07.50, bel pintu berdering dengan nada yang sudah familiar. Arkan masuk membawa tas kamera hitam di bahu kanan dan tripod kecil di tangan kiri. Hari ini ia memakai kemeja putih lengan pendek yang digulung sampai siku, celana jeans gelap, dan sepatu sneakers putih bersih. Penampilan yang jauh lebih santai dari biasanya.

“Pagi,” sapanya sambil tersenyum tipis ke arah Laras. “Siap difoto?”

Laras merasa pipinya sedikit panas. “Pagi, Mas. Kamu… beneran bawa kameranya ya?”

“Sudah janji kan?” Arkan meletakkan tasnya di meja bundar dekat counter. “Aku bawa kamera mirrorless sama lensa 35mm. Cocok buat foto interior dan candid.”

Rina langsung mendekat dengan mata berbinar. “Wah, Mas Arkan pro banget. Aku boleh foto juga nggak?”

“Boleh,” jawab Arkan ramah. “Semua yang ada di kedai hari ini boleh difoto. Tapi yang utama Laras dan kopinya.”

Laras buru-buru sibuk menggiling biji kopi supaya tidak kelihatan gugup. “Aku buatin Americano dulu ya, Mas. Extra shot?”

“Extra shot,” Arkan mengangguk. “Hari ini aku butuh energi lebih.”

Sambil menunggu kopi, Arkan mulai memasang tripod dan mengatur pencahayaan. Ia memindah-mindahkan lampu meja supaya cahaya alami dari jendela besar lebih optimal. Laras diam-diam memperhatikan gerakannya yang teliti dan profesional.

“Gimana caranya foto latte art yang bagus?” tanya Laras saat meletakkan cangkir di depan Arkan.

Arkan menyesap kopinya sebentar, lalu menjawab, “Kita foto dari atas dengan angle sedikit miring. Cahaya harus datang dari samping supaya busa kelihatan teksturnya. Kamu buat latte art dulu, aku yang foto.”

Laras mengangguk. Ia mulai membuat cappuccino dengan latte art sederhana berbentuk hati. Tangan Laras lincah dan terlatih. Arkan mengangkat kamera, mengatur fokus, dan mulai memotret.

“Bagus,” katanya pelan. “Satu lagi. Kali ini buat dua hati kecil.”

Laras tertawa kecil. “Mas Arkan ini kayak direktur foto deh.”

Arkan tersenyum di balik kamera. “Aku serius. Kopi kamu bagus, kedai ini juga bagus. Tinggal kita kasih tampilan yang lebih menarik supaya orang-orang tahu.”

Mereka melanjutkan sesi foto selama hampir satu jam. Arkan meminta Laras berpose di berbagai tempat: di balik counter sambil menyeduh kopi, di depan rak buku kecil yang Laras sediakan untuk pelanggan, bahkan di luar kedai sambil memegang secangkir kopi panas dengan latar belakang jalanan Kemang yang mulai ramai.

Ada satu momen yang membuat Laras benar-benar malu. Arkan meminta Laras duduk di meja dekat jendela, cahaya pagi menyinari wajahnya.

“Senyum yang natural ya,” kata Arkan sambil mengatur kamera.

Laras mencoba tersenyum, tapi hasilnya kaku. “Aku nggak biasa difoto gini, Mas.”

Arkan menurunkan kamera sebentar. Ia mendekat dan berjongkok di depan Laras supaya mata mereka sejajar.

“Laras,” panggilnya lembut. “Bayangin kamu lagi buat kopi buat pelanggan favoritmu. Bayangin kamu lagi senang karena mesinnya sudah beres. Bayangin… kamu lagi bahagia.”

Lihat selengkapnya