Pagi setelah sesi foto, Laras Kopi terasa berbeda. Begitu Laras membuka pintu kedai, ia langsung mengecek Instagram @laraskopi. Angka follow sudah naik menjadi 312 orang dalam waktu kurang dari 24 jam. Beberapa komentar positif masuk: “Kopinya enak banget kelihatannya!”, “Baristanya cantik dan ramah”, “Mau mampir besok pagi!”.
Laras tersenyum lebar sambil memegang ponselnya. “Ini beneran kerjaan Mas Arkan semalam…”
Rina yang baru datang langsung merebut ponsel Laras. “Wah gila! Lar, ini udah viral kecil-kecilan. Foto candid kamu yang itu paling banyak like-nya. Orang-orang pada bilang ‘barista goals’.”
Laras merebut kembali ponselnya sambil tertawa malu. “Udah ah, fokus kerja. Hari ini kita harus siapin stok lebih banyak. Siapa tahu orang datang karena lihat Instagram.”
Sepanjang pagi, Laras bekerja dengan semangat yang meluap. Ia membuat latte art lebih teliti, tersenyum lebih lebar ke setiap pelanggan, dan bahkan sempat foto story singkat saat sedang menyeduh kopi. Arkan datang tepat pukul 08.05, seperti biasa.
Hari ini ia memakai kemeja abu-abu muda yang membuatnya terlihat lebih fresh. Begitu masuk, matanya langsung mencari Laras di balik counter.
“Pagi,” sapanya dengan senyum kecil yang sudah mulai familiar. “Gimana hasilnya?”
Laras meletakkan Americano extra shot di depannya sebelum Arkan bahkan duduk. “Pagi, Mas. Follow-nya udah 312! Komentarnya banyak yang positif. Kamu hebat banget.”
Arkan duduk di stool favoritnya di depan counter. “Bukan aku yang hebat. Kamu dan kopimu yang bikin orang tertarik. Aku cuma bantu ambil foto.”
Mereka berdua membahas strategi konten selanjutnya. Arkan menyarankan posting setiap dua hari sekali, campur antara foto kopi, interior, dan cerita singkat tentang proses pembuatan. Laras mendengarkan dengan serius, sesekali memberi masukan. Rina dari kejauhan hanya bisa nyengir melihat keduanya yang semakin kompak.
Siang hari kedai ramai seperti biasa. Arkan tidak langsung pulang ke kantor. Ia tetap di kedai, sesekali membantu mengangkat barang atau melayani pelanggan saat Laras ke belakang. Beberapa pelanggan baru yang datang karena Instagram langsung mengenali Laras dari foto.
“Eh, ini baristanya yang di foto Instagram ya? Cantik banget aslinya!” kata seorang cewek muda sambil memesan iced latte.
Laras tersipu. “Terima kasih. Silakan duduk ya.”
Arkan yang mendengar dari meja kerjanya hanya tersenyum tipis tanpa berkomentar.
Sore menjelang, hujan deras kembali turun di Jakarta. Pelanggan mulai berkurang. Rina pamit pulang lebih awal karena anaknya demam. Sekali lagi, kedai hanya ditinggal Laras dan Arkan.
“Malam ini kamu sibuk?” tanya Arkan saat Laras sedang membersihkan mesin.
Laras menggeleng. “Nggak. Biasanya aku tutup jam sembilan.”
“Kalau begitu… boleh aku datang lagi malam ini?” Arkan bertanya hati-hati. “Aku bawa makan malam. Kita bahas konten Instagram lebih lanjut sambil makan. Aku janji nggak lama.”
Laras ragu sebentar. Tapi mengingat betapa banyak bantuan Arkan selama ini, ia akhirnya mengangguk. “Boleh. Tapi aku yang sediakan kopinya.”
“Deal,” Arkan tersenyum. “Aku datang jam delapan.”
Jam delapan tepat, Arkan datang membawa dua paper bag besar. Kali ini ia membawa nasi uduk spesial dengan ayam goreng, sambal, dan kerupuk, plus dua potong brownies cokelat sebagai dessert. Aroma makanan langsung memenuhi kedai yang sudah sepi.
Laras sudah menutup pintu depan dan hanya menyisakan lampu kuning hangat di area counter. Ia sudah menyiapkan dua gelas kopi susu hangat dengan sedikit caramel drizzle di atasnya.
“Kamu nggak capek bawa makanan terus?” tanya Laras sambil membantu Arkan menaruh makanan di meja.
Arkan menggeleng. “Aku senang. Lagian, aku jarang makan malam dengan nyaman. Biasanya cuma di apartemen sendirian atau meeting makan malam yang melelahkan.”
Mereka duduk berhadapan. Makanan terasa sangat enak di malam yang dingin karena hujan. Sambil makan, mereka membahas hasil Instagram hari ini. Engagement semakin naik. Beberapa orang bahkan DM ingin booking tempat untuk gathering kecil di kedai.
Arkan menunjukkan beberapa ide konten baru di ponselnya. Laras mendengarkan dengan mata berbinar. Tapi obrolan mereka perlahan bergeser ke hal yang lebih pribadi.