Malam setelah Ryan menelepon, Laras hampir tidak bisa tidur. Ia bolak-balik di kasur kecil kontrakannya, memeluk bantal sambil menatap langit-langit yang retak. Bayangan suara Ryan di telepon terus berputar di kepalanya. “Aku kangen… aku udah di depan…”
Kenapa sekarang? Setelah dua tahun menghilang, setelah menghabiskan sebagian tabungannya dan meninggalkannya saat kedai hampir bangkrut, kenapa tiba-tiba muncul lagi tepat saat hidupnya mulai terasa lebih ringan?
Laras mengambil ponselnya. Jam menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Ada satu pesan masuk dari Arkan yang dikirim jam 23.45.
Arkan:
Laras, kamu sudah sampai rumah? Kalau ada apa-apa, langsung telepon aku ya. Aku nggak keberatan.
Laras menatap pesan itu lama. Jari-jarinya ragu di atas layar. Akhirnya ia mengetik balasan singkat.
Laras:
Sudah sampai, Mas. Terima kasih banyak malam ini. Besok pagi aku buka seperti biasa.
Ia meletakkan ponsel dan menarik napas dalam-dalam. Kehangatan dari Arkan malam tadi masih terasa di bahunya — sentuhan tangan yang lembut, suara tenang yang bilang “kamu nggak sendiri lagi”. Tapi sekarang, bayangan Ryan seperti awan hitam yang mengganggu.
Pagi harinya, Laras datang ke kedai dengan mata sedikit bengkak. Ia berusaha tersenyum seperti biasa saat membuka pintu, tapi Rina langsung tahu ada yang tidak beres.
“Lar… kamu habis nangis ya?” tanya Rina pelan sambil membantu menaruh roti di etalase.
Laras menggeleng. “Nggak apa-apa. Semalam Ryan telepon.”
Rina langsung membelalak. “Ryan? Mantan sialan itu? Mau apa dia?”
“Katanya kangen. Katanya lagi di depan kedai. Untung Mas Arkan ada dan langsung handle.”
Rina menghela napas panjang. “Hati-hati ya, Lar. Cowok kayak dia biasanya muncul pas lihat kita lagi bahagia. Jangan sampai kamu goyah.”
Laras hanya tersenyum tipis. Ia mulai menggiling biji kopi, berharap aroma yang familiar itu bisa menenangkan hatinya.
Arkan datang tepat pukul 08.00. Kali ini wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Begitu melihat Laras, ia langsung mendekat ke counter.
“Pagi. Kamu baik-baik aja?” tanyanya pelan, suaranya penuh perhatian.
Laras mengangguk. “Baik, Mas. Terima kasih lagi buat semalam.”
Arkan tidak langsung duduk. Ia berdiri di depan counter, menatap Laras dengan mata yang dalam. “Kalau Ryan datang lagi hari ini, bilang ke aku langsung. Aku nggak mau kamu sendirian menghadapinya.”
Laras merasa hangat di dada, tapi juga takut. “Mas… aku nggak mau merepotkan kamu terus.”
“Ini bukan repot,” jawab Arkan tegas tapi lembut. “Ini aku peduli.”
Obrolan mereka terpotong karena pelanggan mulai datang. Sepanjang pagi, Arkan tetap di kedai seperti biasa. Ia bekerja di laptopnya, tapi matanya sering melirik ke pintu masuk, seolah siap jika Ryan muncul.
Siang hari, ponsel Laras bergetar. Nomor ibunya.
“Halo, Bu?”
Suara ibunya terdengar lemah di seberang. “Laras… Ibu agak nggak enak hari ini. Kaki bengkak lagi, napas sesak. Kamu bisa ke sini nggak sore nanti?”
Laras langsung panik. “Iya Bu, aku usahain ke sana. Istirahat ya, jangan banyak gerak dulu.”
Setelah telepon ditutup, Laras berdiri diam di belakang counter. Rina mendekat. “Ibu lagi?”
Laras mengangguk. “Aku harus ke Depok sore ini. Kedai… bisa kamu tutup sendiri hari ini, Rin?”
“Bisa, tapi kamu sendiri gimana? Naik angkot atau ojek online? Capek loh.”
Sebelum Laras sempat menjawab, Arkan sudah berdiri di samping mereka. Ia rupanya mendengar percakapan tadi.