Pagi setelah kunjungan ke Depok, Laras datang ke kedai dengan hati yang masih berat. Malam tadi ia hampir tidak tidur. Pesan dari Ryan yang muncul lagi membuatnya gelisah. Ia berulang kali membuka dan menutup aplikasi pesan, tapi akhirnya memilih untuk tidak membalas.
“Semoga dia nggak datang hari ini,” gumam Laras sambil membuka pintu kedai.
Rina sudah datang lebih dulu dan langsung memperhatikan wajah Laras yang pucat. “Lar, kamu kelihatan capek banget. Ibu gimana? Arkan antar kamu pulang?”
“Ibu agak mendingan setelah minum obat. Mas Arkan… dia baik banget kemarin,” jawab Laras sambil tersenyum tipis. “Tapi semalam Ryan kirim pesan lagi. Katanya mau ke kedai hari ini.”
Rina langsung cemberut. “Sialan. Mau apa sih dia? Udah dua tahun hilang, sekarang muncul pas kedai lagi naik daun dan ada cowok baik kayak Arkan. Jangan digubris ya, Lar.”
Laras hanya mengangguk lemah. Ia mulai rutinitas pagi: menggiling biji kopi, menyiapkan mesin, dan menata etalase. Aroma kopi yang biasanya menenangkan kali ini terasa kurang mampu meredakan kegelisahannya.
Arkan datang tepat pukul 08.10. Begitu masuk, ia langsung bisa membaca ekspresi Laras. Pria itu mendekat ke counter dengan langkah cepat.
“Pagi. Kamu nggak tidur nyenyak ya?” tanyanya pelan.
Laras tersenyum paksa. “Pagi, Mas. Iya… semalam agak kepikiran Ibu.”
Arkan tidak langsung percaya. Ia menatap Laras lebih teliti. “Ada yang lain? Ryan hubungi kamu lagi?”
Laras terdiam sebentar, lalu mengangguk pelan. “Dia kirim pesan semalam. Katanya mau ke sini hari ini. Aku nggak bales.”
Arkan menghela napas. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat lebih tegang. “Kalau dia datang, aku di sini. Kamu nggak perlu menghadapinya sendirian.”
“Mas… aku nggak mau bikin kamu ikut ribet,” kata Laras dengan suara rendah.
“Ini bukan ribet,” balas Arkan tegas. “Aku peduli sama kamu, Laras. Itu sudah cukup jadi alasan.”
Obrolan mereka terhenti karena pelanggan mulai berdatangan. Pagi itu kedai cukup ramai berkat posting Instagram yang semakin banyak dilihat orang. Beberapa pelanggan baru datang hanya karena melihat foto latte art dan cerita tentang kedai kecil di Kemang.
Arkan duduk di tempat biasanya, bekerja di laptop, tapi matanya sering melirik ke pintu masuk. Laras berusaha fokus melayani pelanggan, tapi setiap kali bel pintu berdering, jantungnya berdegup lebih kencang.
Siang hari, saat kedai sedang ramai-ramainya, pintu kaca terbuka dengan suara bel yang nyaring. Seorang pria berpakaian casual tapi rapi masuk. Rambutnya disisir ke belakang, memakai kemeja hitam lengan pendek, dan membawa tas selempang. Ryan.
Laras langsung membeku di balik counter. Cangkir yang sedang dipegangnya hampir jatuh. Rina yang melihat langsung mendekat dan berbisik, “Itu dia.”
Ryan tersenyum lebar saat melihat Laras. Ia berjalan mendekat ke counter seolah tidak ada masalah apa pun di antara mereka.
“Lar… lama nggak ketemu. Kamu kelihatan lebih cantik sekarang,” katanya dengan suara yang dibuat ramah.
Laras menelan ludah. Tangannya gemetar. “Ryan… apa yang kamu mau?”
Ryan bersandar di counter, matanya menyapu seluruh kedai. “Wah, kedaimu udah bagus banget ya. Aku lihat di Instagram. Ramai juga. Selamat ya.”
Arkan yang dari tadi diam di meja kerjanya langsung berdiri. Ia mendekat ke counter dengan langkah tenang tapi tegas, berdiri di samping Laras.