Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #9

bab 9

Jumat sore di Laras Kopi terasa berbeda dari hari-hari biasa. Udara di dalam kedai penuh aroma kopi yang segar, campuran antara biji Gayo yang sudah digiling dan sedikit harum roti panggang yang baru keluar dari oven. Laras dan Rina sudah sibuk sejak pagi menyiapkan segalanya untuk acara Coffee Tasting Session pertama yang mereka promosikan melalui Instagram.

Meja-meja bundar di tengah kedai sudah ditata ulang menjadi satu meja panjang dengan taplak kain krem sederhana. Di atasnya tersusun rapi beberapa cangkir kecil, sendok cupping, gelas air untuk membersihkan lidah, dan catatan tasting sheet yang dicetak Arkan semalam. Laras memilih tiga jenis kopi spesial untuk sesi ini: Ethiopian Yirgacheffe yang cerah dengan notes citrus dan floral, Colombian Supremo yang lembut dengan rasa caramel dan cokelat, serta Sumatran Mandheling yang earthy dan bold dengan aftertaste rempah.

“Lar, ini beneran gratis untuk 15 orang pertama?” tanya Rina sambil menaruh piring kecil berisi potongan brownies dan cookies cokelat sebagai pairing.

“Iya, gratis. Tapi kita harap mereka beli kopi atau merchandise kecil setelahnya,” jawab Laras sambil mengatur grinder. “Mas Arkan bilang ini cara bagus buat naikin awareness.”

Arkan datang lebih awal sore itu, pukul empat lewat. Ia membawa dua kardus tambahan berisi biji kopi cadangan dan sebuah papan tulis kecil untuk menulis notes tasting. Begitu masuk, matanya langsung mencari Laras.

“Pagi… eh, sore,” sapanya dengan senyum tipis. “Semua sudah siap?”

Laras mengangguk, tapi senyumnya tidak seluas biasanya. Kemunculan Ryan dua hari lalu masih meninggalkan bayangan. “Sudah, Mas. Terima kasih lagi udah bantu persiapan semalam.”

Arkan mendekat ke counter. Suaranya pelan supaya tidak didengar Rina. “Kamu baik-baik aja? Ryan nggak muncul lagi kan?”

“Belum,” jawab Laras singkat. “Tapi aku takut dia datang pas acara lagi ramai.”

“Aku di sini,” kata Arkan tegas. “Kalau dia muncul, aku yang handle.”

Laras tersenyum kecil, tapi hatinya masih gelisah. Ia menghargai perlindungan Arkan, tapi trauma membuatnya sulit benar-benar percaya bahwa seseorang akan tetap bertahan.

Pukul lima sore, tamu mulai berdatangan. Kebanyakan adalah follower Instagram baru yang penasaran dengan kedai kecil di Kemang ini. Ada sekitar dua puluh orang yang datang, melebihi target 15 orang. Beberapa datang sendiri, ada juga pasangan muda dan sekelompok karyawan kantor yang ingin refreshing setelah kerja.

Arkan membantu menyambut tamu dengan ramah. Ia memperkenalkan diri sebagai “teman pemilik kedai yang kebetulan suka kopi”. Laras berdiri di sampingnya, tersenyum meski tangannya sedikit dingin karena gugup.

“Selamat datang di Laras Kopi Coffee Tasting Session,” kata Laras dengan suara yang ia usahakan tenang. “Hari ini kita akan mencoba tiga single origin kopi dari berbagai daerah. Kita akan cupping bersama, belajar mengenali aroma, rasa, dan aftertaste-nya. Gratis untuk semua, tapi kalau suka, boleh beli biji kopinya di counter.”

Arkan berdiri di samping Laras, sesekali meliriknya dengan bangga. Ia tahu Laras gugup, tapi penampilannya hari ini terlihat lebih percaya diri — apron bersih, rambut diikat rapi, dan senyum yang meski dipaksakan tetap manis.

Sesi dimulai. Arkan membantu mengatur kursi dan membagikan tasting sheet. Laras menjelaskan proses cupping sederhana: menghirup aroma kering, menuang air panas, menunggu empat menit, memecah crust, lalu mencicipi dengan sendok.

“Yang pertama adalah Ethiopian Yirgacheffe,” kata Laras sambil menuang air ke cangkir-cangkir. “Ini kopi washed process, cerah, dengan notes lemon, jasmine, dan sedikit teh hitam.”

Tamu-tamu mengikuti instruksi dengan antusias. Suara sendok beradu dengan cangkir memenuhi kedai. Arkan ikut mencicipi di samping Laras, sesekali berbisik memberi masukan jika Laras lupa menjelaskan sesuatu.

“Enak banget! Ada rasa bunga-bunganya,” kata seorang cewek muda sambil mencatat di sheet-nya.

Laras tersenyum lebar. “Iya, itu yang khas dari Ethiopia. Kalau ditambah susu, rasa citrus-nya masih tetap keluar.”

Sesi berjalan lancar. Saat mereka mencoba kopi kedua — Colombian Supremo — Arkan tiba-tiba ikut aktif menjelaskan.

Lihat selengkapnya