Sabtu pagi setelah coffee tasting session, Laras Kopi terasa lebih sepi dari biasanya. Mungkin karena tamu kemarin sudah puas, atau mungkin karena hujan deras yang mengguyur Jakarta sejak subuh. Laras berdiri di balik counter, menatap jalanan yang basah sambil memegang secangkir kopi hitam yang sudah dingin.
Acara kemarin seharusnya membuatnya bahagia. Omset naik, banyak pujian, foto-foto di Instagram ramai dibagikan. Tapi yang tersisa di hatinya hanyalah bayangan Ryan yang berdiri di luar kedai saat sesi hampir selesai, dan suara Arkan yang tegas saat menangani telepon itu.
Rina datang sambil membawa payung yang basah kuyup. “Lar, semalam Ryan beneran datang ya? Aku lihat story orang-orang di grup komunitas kopi, ada yang bilang ada cowok yang bikin ribut di luar.”
Laras mengangguk lemah. “Dia muncul pas acara udah mau selesai. Untung Mas Arkan langsung handle.”
Rina menghela napas panjang. “Cowok itu nggak ada capeknya ya gangguin hidup orang. Kamu jangan goyah lagi, Lar. Sekarang ada Arkan yang jelas-jelas baik.”
Laras tersenyum tipis, tapi senyum itu tidak sampai ke matanya. “Aku tahu. Tapi… kata-kata Ryan kemarin nyantol di hati. Dia bilang Arkan cuma sementara. Kayak dia dulu.”
“Jangan bandingin,” potong Rina cepat. “Arkan beda. Dia datang tiap hari, bantu dari A sampai Z, bahkan antar kamu ke Depok. Ryan? Cuma muncul pas lagi enak-enaknya.”
Laras tidak menjawab. Ia mulai menggiling biji kopi dengan gerakan mekanis. Pikirannya melayang ke malam kemarin — saat tangan Arkan memegang tangannya setelah acara selesai, saat wajah mereka hampir bersentuhan. Rasanya hangat. Aman. Tapi kenapa sekarang ia justru merasa takut?
Arkan datang pukul 08.30, lebih lambat dari biasanya. Jasnya agak basah karena hujan, rambutnya sedikit acak-acakan. Begitu masuk, ia langsung mencari Laras dengan mata yang penuh perhatian.
“Pagi,” sapanya lembut. “Kamu tidur nyenyak semalam?”
Laras menggeleng jujur. “Nggak terlalu. Masih kepikiran Ryan.”
Arkan mendekat ke counter dan meletakkan tas laptopnya. “Aku juga. Aku takut dia datang lagi dan bikin kamu stres. Hari ini aku full di kedai ya. Kalau dia muncul, aku yang bicara.”
Laras menatap Arkan lama. Pria di depannya ini selalu tenang, selalu siap melindungi. Tapi justru kebaikan itu yang membuat Laras semakin ragu. Apakah semua ini terlalu indah untuk bertahan lama?
Sepanjang pagi, kedai ramai pelanggan baru yang datang karena cerita tasting session kemarin. Arkan ikut membantu melayani, bahkan sempat belajar cara membuat flat white dari Laras. Mereka bekerja dengan kompak, sesekali saling pandang dan tersenyum kecil. Beberapa pelanggan yang rutin sudah mulai mengenali Arkan sebagai “cowok yang sering bantu Laras”.
Siang hari, saat kedai agak sepi, Arkan duduk di stool depan counter sambil membuka laptop. Laras memperhatikannya dari kejauhan. Pria itu terlihat serius, alisnya sedikit berkerut saat membaca email. Beberapa kali ia melihat Arkan menghela napas panjang dan mengusap wajahnya.
“Mas… ada masalah di kantor?” tanya Laras pelan saat mendekat dengan segelas air putih.
Arkan cepat menutup laptopnya. “Nggak apa-apa. Cuma meeting rutin yang agak ribet.”
Laras tidak langsung percaya. Ada sesuatu dalam sikap Arkan yang berbeda hari ini. Lebih tegang. Lebih jauh. Tapi ia memilih tidak menekan. Ia takut jawabannya akan membuatnya semakin takut.
Sore harinya, hujan reda. Laras sedang membersihkan mesin espresso ketika ponselnya bergetar. Pesan dari ibunya.
Ibu:
Laras, Ibu sudah mendingan. Obat yang dibeli Arkan kemarin bagus. Nak Arkan itu orang baik ya? Ibu suka dia.
Laras tersenyum kecil membaca pesan itu. Tapi senyumnya cepat pudar saat ia teringat kata-kata Ryan: “Nanti pas kamu lagi susah lagi, dia juga bakal pergi.”
Arkan yang melihat Laras termenung mendekat. “Ada kabar dari Ibu?”