Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #11

bab 11

Pagi Minggu di Laras Kopi biasanya lebih santai. Hanya segelintir pelanggan tetap yang datang untuk kopi pagi sambil membaca atau bekerja remote. Tapi hari ini, Laras merasa kedai terlalu sepi — atau mungkin hatinya yang sedang sepi.

Ia datang lebih awal, membersihkan setiap sudut dengan gerakan lambat. Setiap kali tangannya menyentuh meja pojok tempat ia dan Arkan duduk malam kemarin, dadanya terasa sesak. Kata-kata “Singapura… enam bulan… mungkin satu tahun” masih bergema di telinganya.

Rina datang sambil membawa tas besar berisi bahan roti baru. “Lar, wajahmu kayak habis ditabrak truk. Masih mikirin Singapura-nya Arkan?”

Laras mengangguk pelan sambil menyusun cangkir. “Dia bilang lagi cari cara supaya nggak harus pergi. Tapi dia belum tolak tawaran itu, Rin. Artinya… dia masih mikir.”

Rina meletakkan tasnya dengan kasar. “Cowok emang gitu. Karir di atas segalanya. Tapi Arkan kelihatan beda. Dia datang tiap hari, bantu dari nol. Jangan langsung judge.”

“Aku nggak judge,” jawab Laras pelan. “Aku cuma takut. Dulu Ryan juga bilang ‘ini kesempatan besar’. Akhirnya dia pergi. Aku nggak mau ngulang sejarah yang sama.”

Bel pintu berdering. Laras langsung tegang, mengira itu Ryan. Tapi yang masuk adalah Arkan — membawa dua paper bag dari bakery terkenal di SCBD. Wajahnya lelah, tapi senyumnya masih hangat saat melihat Laras.

“Pagi,” sapanya lembut. “Aku bawa sarapan. Croissant isi almond sama pain au chocolat. Semoga kamu suka.”

Laras menerima paper bag itu dengan tangan kaku. “Terima kasih, Mas. Kamu nggak perlu repot-repot.”

Arkan meletakkan tas laptopnya dan duduk di stool depan counter. “Ini bukan repot. Aku mau kita bicara lagi hari ini. Dengan kepala dingin.”

Rina langsung mengerti dan pamit ke belakang dengan alasan menyiapkan stok. Tinggal Laras dan Arkan di area counter.

Laras menuang Americano untuk Arkan seperti biasa — extra shot, tanpa gula. Tapi gerakannya kali ini terasa mekanis, tidak ada kehangatan seperti biasanya.

Arkan menyesap kopinya pelan. “Aku sudah mikir semalaman. Aku nggak mau ke Singapura kalau itu artinya aku harus ninggalin kamu.”

Laras menatapnya. “Tapi tawaran itu besar, kan? Jabatan lebih tinggi, gaji naik. Kamu nggak boleh nolak begitu saja hanya karena aku.”

“Aku bisa cari jalan lain,” kata Arkan tegas. “Mungkin remote beberapa bulan, atau negosiasi sama atasan. Aku belum jawab email itu. Aku tunggu dulu.”

Laras tersenyum getir. “Menunggu itu yang bikin aku takut, Mas. Kamu masih mempertimbangkan. Artinya karir masih lebih penting daripada… ini.”

Arkan meletakkan cangkirnya. Ia mengulurkan tangan ingin memegang tangan Laras, tapi Laras menarik tangannya pelan.

“Laras… tolong jangan begini. Aku serius sama kamu. Dari hari pertama aku masuk ke kedai ini karena hujan, aku sudah merasa ada yang beda.”

Sebelum Laras sempat menjawab, bel pintu berdering lagi. Seorang kurir masuk membawa sebuah buket bunga mawar merah besar dan sebuah kotak hadiah kecil.

“Ada pesanan untuk Bu Larasati Pramesti?” tanya kurir itu.

Laras membeku. Ia mendekat dengan ragu dan menandatangani bukti terima. Di kartu kecil yang menyertai buket tertulis:

“Maaf untuk semua yang dulu. Aku benar-benar berubah. Kasih aku kesempatan sekali lagi. – Ryan”

Laras merasa darahnya mendidih. Arkan yang melihat dari counter langsung berdiri dan mendekat.

“Ryan lagi?” tanyanya dengan suara rendah, ada nada marah yang tertahan.

Lihat selengkapnya