Hari Senin pagi datang dengan hujan deras yang tak kunjung reda. Langit Jakarta kelabu gelap, seolah ikut merasakan kegelisahan yang menyelimuti Laras Kopi.
Laras berdiri di depan pintu kedai yang masih terkunci. Ia memegang kunci dengan tangan gemetar. Pesan yang ia kirim ke Arkan semalam — “Aku butuh waktu, Mas. Tolong jangan datang dulu besok” — masih terasa seperti pisau yang ia tusukkan ke dadanya sendiri.
Rina datang sambil berlari kecil menghindari genangan air. “Lar… kamu beneran kirim pesan itu ke Arkan? Dia nggak datang pagi ini?”
Laras mengangguk tanpa menjawab. Matanya sembab, bekas menangis semalaman. Ia membuka pintu kedai dengan gerakan lambat, seolah tak ada tenaga.
Di dalam, aroma kopi yang biasanya menenangkan hari ini terasa menyengat. Laras langsung menyalakan mesin espresso, tapi tangannya salah tekan tombol. Air panas tumpah sedikit, membakar ujung jarinya.
“Aw!” Ia menarik tangan cepat, tapi bukan rasa sakit fisik yang ia rasakan. Rasa sakit di hati jauh lebih menusuk.
Rina mendekat dan memegang bahu Laras. “Kamu nggak apa-apa? Wajahmu pucat banget.”
Laras menggeleng. “Aku baik-baik aja. Kita buka seperti biasa.”
Tapi ia tidak baik-baik saja.
Sepanjang pagi, setiap kali bel pintu berdering, jantung Laras berdegup kencang. Ia berharap itu Arkan, tapi juga takut itu Arkan. Ia takut melihat wajah pria itu — wajah yang selama ini selalu memberinya kekuatan, tapi kini justru menjadi sumber keraguannya.
Pelanggan datang dan pergi. Beberapa bertanya kenapa Arkan tidak terlihat hari ini. Laras hanya tersenyum paksa dan menjawab, “Dia sibuk di kantor.”
Siang hari, hujan semakin deras. Kedai sepi. Laras duduk di meja pojok — meja yang biasa dipakai Arkan — sambil memeluk secangkir kopi yang sudah dingin. Air matanya jatuh pelan ke permukaan meja kayu.
“Kenapa semuanya jadi begini…” bisiknya.
Tiba-tiba bel pintu berdering keras. Laras mendongak cepat.
Bukan Arkan.
Ryan berdiri di ambang pintu, jas hitamnya basah kuyup, rambutnya acak-acakan karena hujan. Matanya menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan — campuran penyesalan dan keputusasaan.
“Lar… aku tahu kamu bilang jangan ganggu. Tapi aku nggak bisa diem aja,” kata Ryan dengan suara berat. Ia melangkah masuk tanpa izin.
Laras berdiri cepat, tubuhnya tegang. “Ryan, keluar. Aku nggak mau ketemu kamu.”
Rina yang sedang di belakang langsung keluar dan berdiri di samping Laras. “Lo denger nggak? Dia bilang keluar!”
Ryan tidak mundur. Ia malah mendekat beberapa langkah. “Aku tahu aku salah besar dulu. Aku ninggalin kamu pas susah. Aku ambil uang kamu. Aku pengecut. Tapi aku sudah berubah, Lar. Aku lihat kamu di Instagram, lihat kamu bahagia sama cowok itu… dan aku sadar aku nggak mau kehilangan kamu lagi.”
Laras merasa dadanya sesak. “Kamu terlambat, Ryan. Dua tahun terlambat.”
Ryan menggeleng kuat. Air hujan menetes dari rambutnya ke lantai. “Aku dengar dia ditawarin kerja di Singapura. Lo pikir dia bakal stay? Dia tipe orang yang ambisius, Lar. Sama kayak aku dulu. Nanti dia juga bakal pilih karir daripada kamu.”
Kata-kata itu seperti tamparan keras di wajah Laras. Air matanya langsung jatuh.
“Keluar!” teriak Laras dengan suara bergetar. “Kamu nggak tahu apa-apa tentang dia!”
Ryan masih tidak mundur. Suaranya semakin mendesak, hampir putus asa. “Aku tahu lebih banyak dari yang lo kira. Aku masih sayang kamu, Lar. Kasih aku satu kesempatan. Aku bisa bantu kedai ini. Aku punya uang sekarang. Aku bisa bayar semua utang kamu.”