Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #13

bab 13

Tiga hari berlalu sejak malam hujan deras itu.

Laras Kopi tetap buka seperti biasa, tapi suasananya terasa berbeda. Laras tersenyum ke pelanggan, membuat kopi dengan teliti, tapi senyumnya tidak lagi sampai ke mata. Setiap kali bel pintu berdering, hatinya berdegup — setengah berharap, setengah takut itu adalah Arkan.

Arkan tidak datang.

Ia menghormati permintaan Laras untuk memberi waktu. Tapi ia tidak diam saja.

Pagi pertama setelah penolakan, Laras menemukan sebuah amplop cokelat tebal di depan pintu kedai saat ia datang membuka. Di dalamnya tidak ada uang, melainkan sebuah surat tulis tangan yang rapi dan panjang, plus foto-foto polaroid yang diambil Arkan selama ini.

Laras duduk di counter sambil membaca surat itu dengan tangan gemetar.

Laras,

Aku tahu kamu minta waktu, dan aku akan memberikannya. Tapi aku tidak bisa diam tanpa melakukan apa-apa.

Aku ingin kamu tahu bahwa aku serius. Aku sudah resmi menolak tawaran Singapura. Surat penolakannya sudah kukirim, dan atasan aku marah besar. Tapi aku tidak menyesal. Karena kehilangan kamu jauh lebih menakutkan daripada kehilangan jabatan.

Aku ingat hari pertama aku masuk ke kedai ini karena hujan. Aku ingat rasa kopi pahit pertama yang kamu buat. Aku ingat senyum kecilmu saat aku bilang kopimu enak. Semua itu bukan kebetulan bagiku.

Aku tahu kamu trauma karena Ryan. Aku tahu keluargaku membuat semuanya semakin sulit. Tapi aku ingin kamu tahu — aku memilih kamu. Bukan karena kasihan, bukan karena ingin jadi pahlawan. Aku memilih kamu karena kamu membuat aku ingin pulang setiap malam, bukan ke apartemen kosong, tapi ke tempat di mana ada kamu.

Aku akan menunggu. Berapa lama pun.

Kalau kamu butuh ruang, aku kasih. Tapi tolong jangan tutup hati kamu sepenuhnya.

Aku sayang kamu, Laras.

Bukan kata-kata manis semata. Tapi dengan seluruh tindakanku.

— Arkan

Di dalam amplop juga ada foto polaroid: Laras sedang tersenyum saat membuat latte art, Laras dan Rina tertawa di belakang counter, dan satu foto candid Arkan dan Laras berdiri berdampingan di depan mesin espresso.

Laras menangis membaca surat itu. Air matanya menetes ke kertas. Rina yang melihat hanya diam dan memeluk sahabatnya dari belakang.

“Hari ini dia nggak datang lagi,” kata Laras pelan. “Dia benar-benar kasih aku waktu.”

“Dia berjuang dengan caranya sendiri,” jawab Rina lembut. “Cowok kayak gini jarang, Lar.”

Hari kedua, Arkan masih tidak muncul. Tapi sore harinya, sebuah mobil box kecil berhenti di depan kedai. Dua orang karyawan turun membawa mesin espresso baru yang sangat bagus — tipe yang Laras pernah lihat di katalog mahal.

“Pesanan untuk Laras Kopi,” kata salah satu karyawan. “Dari Bapak Arkan Wiratama. Sudah dibayar lunas. Kami disuruh pasang hari ini juga.”

Laras terpaku. Mesin itu jauh lebih baik dari mesin lamanya yang sering mogok. Harganya pasti puluhan juta.

“Dia… gila,” bisik Laras sambil menutup mulutnya.

Rina ikut terkejut. “Ini… ini terlalu, Lar.”

Saat teknisi sedang memasang mesin baru, Laras duduk di pojok sambil memegang surat Arkan yang sudah ia baca berulang kali. Hatinya mulai goyah. Kebaikan Arkan bukan sekadar kata-kata. Ia benar-benar berusaha menunjukkan lewat tindakan.

Malam harinya, Laras duduk sendirian di kedai setelah tutup. Ia mengambil ponsel dan mengetik pesan untuk Arkan, tapi menghapusnya lagi. Ia takut kalau ia membalas sekarang, ia akan terlalu cepat melunak.

Lihat selengkapnya