Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #14

bab 14

Pagi setelah Arkan datang basah kuyup, Laras Kopi terasa lebih hidup. Laras bangun lebih awal dengan hati yang masih berdebar-debar. Ia memandang cermin lama di kontrakannya dan tersenyum kecil pada bayangannya sendiri.

“Pelan-pelan, Laras… jangan terlalu cepat percaya lagi,” bisiknya pada diri sendiri.

Tapi senyum itu tetap ada.

Ia datang ke kedai lebih pagi, menyiapkan biji kopi terbaik, membersihkan mesin espresso baru yang diberikan Arkan, dan bahkan membuat latte art hati kecil di cangkir cadangan — sesuatu yang biasanya ia lakukan hanya saat mood sedang bagus.

Rina datang dan langsung nyengir lebar. “Wah, Laras hari ini glowing. Arkan datang lagi kemarin ya? Akhirnya kamu luluh juga?”

Laras tersipu sambil mengelap counter. “Nggak sepenuhnya luluh. Tapi… aku kasih kesempatan. Dia berjuang banget, Rin. Aku nggak tega lihat dia basah kuyup di depan pintu.”

Rina memeluk Laras dari belakang. “Bagus. Kamu pantas bahagia. Jangan biarin masa lalu Ryan merusak semuanya lagi.”

Bel pintu berdering tepat pukul 08.00.

Arkan masuk dengan senyum lelah tapi bahagia. Ia membawa dua gelas es teh manis dari warung sebelah dan sebungkus roti bakar.

“Pagi,” sapanya lembut, matanya langsung mencari Laras. “Aku datang. Seperti yang kamu bilang.”

Laras tersenyum kecil, pipinya memerah. “Pagi, Mas. Duduk dulu. Aku buatin kopi.”

Mereka berdua duduk di meja pojok seperti biasa. Arkan menatap Laras dengan tatapan penuh syukur.

“Terima kasih udah kasih aku kesempatan,” katanya pelan. “Aku janji akan ambil langkah kecil. Nggak akan buru-buru.”

Laras mengangguk. “Aku juga janji akan coba percaya lagi. Tapi pelan-pelan ya, Mas.”

Suasana pagi itu hangat. Arkan membantu melayani pelanggan, Laras membuat kopi dengan senyum yang lebih tulus. Beberapa pelanggan tetap bahkan menggoda mereka berdua. Rina hanya bisa nyengir dari kejauhan.

Tapi kehangatan itu tidak bertahan lama.

Siang hari, saat kedai sedang ramai, sebuah mobil mewah hitam berhenti tepat di depan Laras Kopi. Seorang wanita paruh baya turun dengan langkah tegas. Ia memakai kebaya modern berwarna krem, perhiasan emas yang mencolok, dan tas branded mahal. Wajahnya dingin dan angkuh.

Ibu Arkan.

Arkan yang sedang membantu membersihkan meja langsung membeku saat melihat ibunya masuk ke kedai.

“Ibu…” suaranya hampir hilang.

Bu Wiratama menatap sekeliling kedai dengan pandangan meremehkan. Matanya berhenti pada Laras yang berdiri di balik counter.

“Jadi ini kedai yang membuat anak Ibu tolak promosi besar ke Singapura?” katanya dengan suara tajam, cukup keras hingga beberapa pelanggan menoleh.

Laras merasa jantungnya jatuh. Arkan langsung berdiri dan mendekati ibunya.

“Ibu, kita bicara di luar saja.”

Bu Wiratama mengabaikan anaknya. Ia melangkah mendekati counter dan menatap Laras dari atas ke bawah.

“Kamu Larasati?” tanyanya dingin.

Laras mengangguk pelan, tangannya gemetar di balik apron. “Iya, Bu. Saya Laras.”

Bu Wiratama tersenyum sinis. “Cantik sih. Tapi sayang, dunia kita berbeda. Anak Ibu sudah ditakdirkan untuk karir besar. Bukan untuk menghabiskan waktu di kedai kopi kecil seperti ini.”

Arkan langsung berdiri di antara ibunya dan Laras. Suaranya tegas meski bergetar. “Ibu, cukup. Laras bukan orang sembarangan. Saya yang memilih dia.”

Lihat selengkapnya