Dua hari setelah insiden besar di kedai, ketegangan masih menyelimuti Laras Kopi. Laras berusaha tetap tersenyum ke pelanggan, tapi pikirannya terus melayang ke wajah dingin Bu Wiratama dan kata-kata menyakitkan yang diucapkannya.
Arkan datang setiap pagi seperti biasa, tapi kali ini ia terlihat lebih lelah. Lingkar hitam di bawah matanya semakin jelas. Ia membantu di kedai, membuat kopi bersama Laras, dan sesekali menggenggam tangan Laras di balik counter ketika tidak ada yang melihat.
“Mas… kamu tidur cukup nggak?” tanya Laras pelan saat mereka sedang membersihkan mesin espresso sore hari.
Arkan tersenyum tipis. “Cukup. Aku lagi usaha bicara sama Ibu. Beliau masih marah, tapi aku nggak mau nyerah.”
Laras menggigit bibir. “Aku nggak mau kamu ribut sama keluargamu karena aku.”
Arkan memegang bahu Laras lembut. “Ini pilihan aku, Laras. Aku yang harus tanggung jawab.”
Malam itu, telepon Arkan berdering saat ia sedang mengantar Laras pulang. Nomor rumah orang tuanya.
Arkan menatap Laras sebelum mengangkat. “Ini Ibu.”
Laras mengangguk. “Angkat aja.”
Suara Bu Wiratama terdengar tegas di seberang. “Arkan, besok malam Ibu mau bicara langsung sama kamu dan cewek itu. Datang ke rumah jam 7 malam. Bawa dia.”
Arkan terkejut. “Ibu serius?”
“Ibu serius. Kalau kamu benar-benar memilih dia, Ibu ingin lihat sendiri siapa yang membuat anak Ibu rela buang masa depan.”
Telepon ditutup.
Arkan menatap Laras dengan khawatir. “Ibu mau ketemu kamu besok malam di rumah. Kamu mau ikut?”
Laras diam cukup lama. Tangannya dingin. Akhirnya ia mengangguk pelan. “Aku ikut. Aku nggak mau lari terus-terusan, Mas.”
Arkan memeluk Laras erat di dalam mobil. “Aku di samping kamu. Kita hadapi bareng.”
Malam berikutnya
Rumah keluarga Arkan di kawasan elite Pondok Indah terlihat megah dan dingin. Lampu kristal menyala terang, lantai marmer mengkilap, dan aroma masakan mewah tercium dari dapur.
Laras mengenakan dress sederhana berwarna krem yang dibelinya siang tadi. Tangan Arkan menggenggam tangannya erat sejak turun dari mobil.
Bu Wiratama sudah duduk di ruang tamu besar bersama suaminya, Pak Wiratama — seorang pengusaha sukses yang lebih banyak diam tapi tatapannya tajam.
“Silakan duduk,” kata Bu Wiratama dingin.
Laras dan Arkan duduk bersebelahan. Suasana langsung tegang.
Bu Wiratama langsung membuka pembicaraan tanpa basa-basi. “Larasati, Ibu dengar kamu pemilik kedai kopi kecil di Kemang. Kamu juga punya utang dan ibu yang sakit-sakitan. Benar?”
Laras menelan ludah. “Benar, Bu.”
Bu Wiratama tersenyum tipis. “Lalu apa yang bisa kamu kasih buat anak Ibu? Karirnya sudah di ujung keberhasilan. Sekarang dia tolak promosi ke Singapura karena kamu. Kamu sadar nggak kalau kamu merusak masa depannya?”
Arkan langsung marah. “Ibu—”
Laras memegang lengan Arkan, menghentikannya. Ia menatap Bu Wiratama dengan mata yang berkaca-kaca tapi suaranya tegas.
“Bu, saya sadar saya bukan dari kalangan yang Ibu inginkan. Saya nggak punya kekayaan, nggak punya gelar, nggak punya koneksi. Tapi saya mencintai Mas Arkan dengan tulus. Saya nggak minta dia tolak Singapura. Saya malah takut dia menyesal nanti. Tapi Mas Arkan yang memilih tetap di sini. Saya… saya hanya bisa janji akan berusaha jadi pendamping yang baik buat dia. Saya akan dukung karirnya, saya akan bantu dia bahagia, dan saya akan belajar menjadi lebih baik.”
Pak Wiratama yang selama ini diam akhirnya bicara. Suaranya berat. “Kamu berani sekali datang ke sini dan bicara seperti itu.”