Seminggu setelah malam dramatis di rumah keluarga Arkan, Laras Kopi kembali ke ritme yang lebih tenang. Hujan di Jakarta mulai jarang, digantikan sinar matahari pagi yang hangat. Laras datang lebih awal setiap hari, bukan karena takut, tapi karena ada harapan kecil yang mulai tumbuh di dadanya.
Arkan masih datang setiap pagi. Ia tidak lagi hanya duduk di depan counter sebagai pelanggan, tapi ikut membantu dengan senang hati — mengangkat kardus biji kopi, membersihkan meja, bahkan belajar membuat latte art meski hasilnya masih miring-miring.
“Mas, ini hati lagi patah,” goda Laras sambil tertawa kecil saat melihat latte art buatan Arkan.
Arkan mengusap hidungnya yang berlumur susu. “Kasih aku waktu. Satu tahun lagi aku pasti bisa bikin hati yang bagus.”
Laras tersenyum. Kata “satu tahun” itu mengingatkannya pada kesepakatan dengan Bu Wiratama. Satu tahun untuk membuktikan bahwa hubungan mereka layak mendapat restu.
Rina yang melihat dari kejauhan hanya bisa nyengir. “Kalian berdua kayak pasangan baru yang lagi kasmaran. Romantis banget.”
Laras melempar kain lap ke arah Rina. “Kerja sana, Rin!”
Tapi di balik godaan itu, Laras merasa hatinya semakin hangat. Arkan benar-benar berusaha. Ia tidak pernah memaksa, tidak pernah buru-buru, hanya hadir setiap hari dengan cara yang tenang dan tulus.
Namun, keluarga Arkan belum sepenuhnya melunak.
Pada hari Kamis sore, ponsel Arkan berdering saat ia sedang membantu Laras menyusun rak buku di kedai. Nomor rumah orang tuanya.
Arkan melihat Laras sebelum mengangkat. “Ibu lagi.”
Laras mengangguk. “Angkat aja, Mas.”
Suara Bu Wiratama terdengar di seberang, kali ini tidak sekeras biasanya.
“Arkan, besok malam Ayah ulang tahun ke-58. Ibu mau kamu datang. Bawa Laras.”
Arkan terkejut. “Beneran, Bu? Ibu mau Laras datang?”
“Iya,” jawab Bu Wiratama pelan. “Ibu sudah mikir-mikir. Kalau kalian serius, Ibu mau lihat Laras di lingkungan keluarga. Bukan hanya di kedai kopi. Datang jam 7 malam. Jangan telat.”
Telepon ditutup.
Arkan menatap Laras dengan campuran senang dan khawatir. “Ibu mengundang kamu ke ulang tahun Ayah besok malam. Kamu mau ikut?”
Laras merasa jantungnya berdegup kencang. “Aku… aku takut, Mas. Tapi kalau ini langkah buat keluargamu mulai melunak, aku mau coba.”
Arkan memeluk Laras pelan. “Aku di samping kamu. Kalau kamu nggak nyaman, kita pulang kapan saja.”
Malam ulang tahun Pak Wiratama
Rumah keluarga Arkan kembali terlihat megah. Kali ini ada dekorasi sederhana untuk ulang tahun — balon emas, bunga segar, dan meja makan panjang yang sudah disiapkan dengan hidangan mewah.
Laras mengenakan dress navy sederhana yang dipilihnya dengan hati-hati. Rambutnya diikat rapi, make-up tipis. Ia memegang tangan Arkan erat sejak turun dari mobil.
Begitu masuk, Bu Wiratama sudah menunggu di ruang tamu. Kali ini ekspresinya tidak sekeras minggu lalu. Ia bahkan tersenyum tipis saat melihat Laras.
“Datang juga,” katanya. “Silakan masuk. Ayah sudah nunggu di ruang keluarga.”
Pak Wiratama duduk di kursi utama, dikelilingi beberapa kerabat dekat. Saat melihat Laras, ia mengangguk sopan.
“Selamat datang, Laras. Duduklah.”
Makan malam dimulai dengan suasana yang masih agak kaku. Kerabat Arkan sesekali melirik Laras dengan rasa penasaran. Bu Wiratama bertanya banyak hal — tentang kedai Laras, tentang ibunya yang sakit, tentang rencana masa depan.