Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #17

bab 17

Dua minggu setelah malam ulang tahun Pak Wiratama, suasana di Laras Kopi terasa lebih cerah. Hujan Jakarta sudah mulai jarang, digantikan angin pagi yang sejuk. Laras datang setiap hari dengan senyum yang semakin sering terlihat tulus.

Arkan masih datang setiap pagi tanpa absen. Ia sudah tidak lagi hanya duduk sebagai pelanggan. Sekarang ia ikut membuka kedai, membantu Rina menata etalase, dan bahkan belajar cara memanggang croissant sederhana di oven kecil yang baru dibeli.

“Mas, jangan diaduk terlalu kencang,” kata Laras sambil tertawa kecil saat melihat Arkan mengaduk adonan dengan wajah serius. “Nanti croissant-nya keras kayak batu.”

Arkan tersenyum malu. “Aku cuma mau bantu. Biar kamu nggak capek sendirian.”

Rina yang sedang menyusun gelas di rak hanya bisa geleng-geleng kepala sambil nyengir. “Kalian berdua ini udah kayak suami-istri yang baru nikah. Romantis banget pagi-pagi.”

Laras melempar kain lap ke arah Rina. “Kerja sana! Jangan godain terus.”

Tapi di balik godaan itu, Laras merasa hatinya semakin ringan. Arkan benar-benar menepati janjinya — mengambil langkah kecil, tidak memaksa, dan selalu hadir dengan cara yang membuat Laras merasa dihargai.

Suatu pagi, saat kedai masih sepi, Arkan duduk di depan counter sambil menyesap Americano-nya.

“Laras,” panggilnya pelan. “Besok Sabtu. Aku mau ajak kamu ke suatu tempat. Bukan date yang mewah. Cuma… tempat yang spesial buat aku.”

Laras mengangkat alis. “Ke mana?”

Arkan tersenyum misterius. “Rahasia. Tapi aku janji kamu akan suka. Bisa?”

Laras ragu sebentar, tapi melihat mata Arkan yang penuh harap, ia akhirnya mengangguk. “Bisa. Tapi jam berapa? Aku harus tutup kedai dulu.”

“Jam 4 sore aku jemput. Rina bisa jaga kedai kan?”

Rina yang mendengar dari belakang langsung mengacungkan jempol. “Bisa! Kalian pergi aja. Aku jagain sini.”

Sabtu sore

Arkan datang tepat waktu dengan mobilnya yang sudah bersih. Ia memakai kemeja biru muda lengan digulung dan celana chino gelap — tampilan santai tapi tetap rapi.

Laras keluar dari kedai dengan dress floral sederhana yang membuatnya terlihat segar. Arkan terpaku sebentar saat melihatnya.

“Kamu cantik banget,” katanya tulus.

Laras tersipu. “Makasih, Mas. Kita mau ke mana sebenarnya?”

Arkan hanya tersenyum. “Ikut aja.”

Mobil meluncur meninggalkan Kemang menuju arah selatan. Setelah hampir 45 menit, mereka tiba di sebuah bukit kecil di pinggiran Jakarta Selatan yang masih hijau. Di puncak bukit ada sebuah kedai kopi kecil bernama “Sky Brew” yang menghadap ke panorama kota.

Arkan memarkir mobil dan membawa Laras naik ke teras atas yang terbuka.

“Ini tempat favorit aku dulu,” katanya pelan saat mereka duduk di meja paling ujung. “Dulu aku sering ke sini kalau lagi stres kerja. Duduk sendirian, minum kopi, lihat kota dari atas. Rasanya… tenang.”

Laras menatap pemandangan di depannya. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala di bawah sana, langit sore berwarna oranye keunguan. Angin sejuk berhembus pelan.

“Bagus banget,” bisik Laras.

Arkan memesan dua cangkir kopi hitam untuk mereka berdua. Saat kopi datang, ia menatap Laras dengan mata yang lembut.

Lihat selengkapnya