Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #18

bab 18

Pagi di Kemang datang dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Tidak ada suara hujan yang memukul atap seng, tidak ada genangan air di depan kedai. Hanya sinar matahari yang jatuh lembut di trotoar, menyusup lewat jendela kaca dan memantul di permukaan meja kayu Laras Kopi.

Laras sudah berdiri di balik counter sejak pukul enam pagi. Rambutnya diikat seadanya, apron cokelatnya sedikit berdebu tepung. Di depannya, adonan croissant yang semalam ia siapkan sudah siap masuk oven.

“Mas, kamu yakin mau bantu lagi?” tanyanya tanpa menoleh.

Di sisi lain meja, Arkan menggulung lengan kemejanya, fokus pada adonan di tangannya. Gerakannya masih kaku, tapi jauh lebih baik dari dua minggu lalu.

“Aku udah belajar dari kesalahan,” jawabnya santai. “Hari ini nggak akan keras kayak batu.”

Laras tertawa kecil.

“Kita lihat nanti.”

Suara pintu terbuka pelan, diikuti lonceng kecil yang berdenting. Rina masuk dengan langkah cepat, membawa dua kantong plastik dari pasar.

“Pagi, pengantin baru!” serunya ceria.

“Rina!” Laras langsung memprotes, pipinya sedikit memerah.

Arkan hanya tersenyum tipis, tapi tidak menyangkal.

“Ini aku beliin susu sama buah. Diskon di pasar tadi,” lanjut Rina sambil meletakkan barang di meja. Ia melirik Arkan, lalu berbisik ke Laras, “Serius, ini cowok makin hari makin betah ya di sini.”

Laras pura-pura tidak dengar, tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan.

Jam menunjukkan pukul delapan ketika pelanggan mulai berdatangan.

Seorang ibu muda dengan anak kecil, dua mahasiswa yang sibuk dengan laptop, dan beberapa pekerja kantoran yang mampir sebelum berangkat kerja. Kedai kecil itu perlahan hidup.

Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi mentega dari croissant yang baru matang.

Arkan berdiri di samping Laras, membantu menuangkan kopi ke cangkir-cangkir dengan hati-hati. Sesekali ia masih salah takaran, tapi Laras hanya mengoreksi dengan sabar.

“Pelan,” bisik Laras sambil menyentuh tangannya sebentar. “Jangan terlalu penuh.”

Sentuhan itu singkat. Tapi cukup untuk membuat Arkan diam sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.

“Hmm,” gumamnya, lalu mengangguk.

Rina yang melihat dari kejauhan hanya menggeleng sambil tersenyum.

Sekitar pukul sepuluh, suasana mulai sedikit lengang.

Laras duduk di kursi tinggi di balik counter, menghela napas panjang. Wajahnya berkeringat tipis, tapi matanya terlihat puas.

“Capek?” tanya Arkan sambil menyodorkan segelas air.

“Capek,” jawab Laras jujur. “Tapi enak.”

Arkan duduk di depannya, membawa secangkir Americano seperti biasa.

“Ramai ya sekarang.”

Laras mengangguk. “Iya. Aku juga nggak nyangka. Mungkin karena promosi kemarin… atau karena croissant gratis di hari pertama.”

“Strategi yang bagus,” kata Arkan. “Customer suka hal kecil kayak gitu.”

Laras tersenyum. “Mas juga yang ngajarin.”

Arkan menggeleng pelan. “Aku cuma bantu. Yang jalanin tetap kamu.”

Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap. Tidak ada yang bicara, tapi suasananya nyaman.

Sangat nyaman.

Terlalu nyaman.

Ponsel Arkan tiba-tiba bergetar di atas meja.

Layar menyala sebentar.

Arkan langsung melirik, lalu tanpa sadar mengernyit.

Laras menangkap perubahan kecil itu.

“Kenapa?” tanyanya ringan.

Arkan cepat-cepat mengambil ponselnya dan membaliknya. “Nggak apa-apa. Kerjaan.”

Lihat selengkapnya