Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #19

bab 19

Pagi itu datang terlalu cepat.

Arkan bahkan belum benar-benar tidur.

Lampu apartemennya masih menyala ketika jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh. Laptopnya terbuka di meja kerja, layar penuh dengan dokumen berbahasa Inggris, grafik, dan angka-angka yang biasanya terasa biasa… tapi pagi ini terasa berat.

Ia menyandarkan punggung ke kursi, menutup mata sejenak.

Kalimat dari email semalam masih terngiang:

We would like to offer you the position for Singapore expansion…

Arkan menghembuskan napas pelan.

Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali.

Ini bukan sekadar promosi. Ini lompatan besar.

Tapi entah kenapa… yang terlintas di kepalanya bukan gedung tinggi di Singapura.

Melainkan kedai kecil di Kemang.

Dan seorang perempuan yang tersenyum di balik counter kayu.

“Mas, jangan diaduk terlalu kencang…”

Arkan membuka mata.

Ia berdiri, mematikan laptop, lalu meraih kunci mobilnya.

Laras Kopi sudah buka ketika Arkan tiba.

Seperti biasa, lonceng pintu berdenting pelan saat ia masuk. Aroma kopi langsung menyambut, hangat dan familiar—seolah tidak ada yang berubah.

Laras berdiri di balik counter, sedang menuangkan susu ke dalam cangkir. Rambutnya diikat tinggi, beberapa helai jatuh di sisi wajah.

“Pagi,” sapa Arkan.

Laras mendongak, dan senyumnya langsung muncul tanpa ditahan.

“Pagi, Mas.”

Senyum itu… selalu berhasil membuat dada Arkan terasa lebih ringan.

“Telat lima menit,” tambah Laras sambil melirik jam.

Arkan mengangkat alis. “Dicatat ya sekarang?”

“Harus dong. Karyawan baru soalnya.”

Arkan tertawa kecil, lalu berjalan mendekat.

“Baik, Bu Bos. Saya siap dihukum.”

“Cuci gelas dulu sana,” kata Laras sambil menunjuk wastafel.

“Siap.”

Rutinitas pagi berjalan seperti biasa.

Pelanggan datang silih berganti. Rina sibuk di bagian kasir, Laras di mesin kopi, dan Arkan… belajar menjadi bagian dari semuanya.

Ia mencuci gelas, menyusun etalase, bahkan mencoba menerima pesanan—meskipun beberapa kali masih salah dengar.

“Mas, ini latte, bukan cappuccino,” bisik Laras sambil menahan tawa.

“Mirip,” balas Arkan.

“Beda.”

“Iya, iya.”

Mereka saling bertukar pandang. Sekilas. Tapi cukup untuk menciptakan momen kecil yang hanya mereka pahami.

Sekitar pukul sembilan, kedai mulai sedikit lengang.

Laras menuangkan Americano untuk Arkan tanpa perlu ditanya.

Ia meletakkannya di depan Arkan yang duduk di kursi pojok.

“Tanpa gula. Seperti biasa.”

Arkan menatap cangkir itu, lalu ke arah Laras.

“Sekarang kamu yang hafal.”

Laras tersenyum tipis. “Harus.”

Arkan mengangguk pelan.

Ia menyesap kopinya, tapi rasanya tidak sejelas biasanya.

Pikirannya masih tertinggal di email semalam.

Ponselnya bergetar.

Sekali.

Lalu dua kali.

Arkan menghela napas pelan sebelum mengambilnya.

Nama yang muncul membuat rahangnya menegang sedikit.

Daniel – Regional Director

Ia berdiri dari kursinya.

“Aku angkat telepon sebentar ya,” katanya ke Laras.

Lihat selengkapnya