Pagi itu datang dengan langit yang sedikit mendung.
Bukan hujan, bukan juga cerah sepenuhnya—seperti hari yang belum memutuskan akan jadi apa.
Laras sudah membuka kedai sejak setengah enam. Mesin kopi menyala, aroma biji kopi yang baru digiling memenuhi ruangan. Semua berjalan seperti biasa.
Hanya satu yang tidak.
Arkan belum datang.
Laras melirik jam di dinding.
06.58.
Biasanya, Arkan sudah berdiri di depan pintu sebelum jam tujuh. Bahkan kadang lebih pagi, membawa sarapan atau sekadar menyapa sebelum pelanggan pertama datang.
Hari ini… tidak.
“Mas Arkan belum?” tanya Rina sambil menyusun roti di etalase.
“Belum,” jawab Laras singkat.
“Nggak biasa ya.”
Laras hanya mengangkat bahu. “Mungkin macet.”
Padahal mereka sama-sama tahu—Kemang sepagi ini belum seramai itu.
Jam menunjukkan pukul tujuh lewat sepuluh ketika pintu akhirnya terbuka.
Lonceng berdenting pelan.
Arkan masuk dengan langkah sedikit cepat, kemejanya rapi seperti biasa, tapi ada sesuatu yang berbeda. Rambutnya tidak serapi biasanya. Dan untuk pertama kalinya sejak beberapa minggu terakhir…
Ia terlihat terburu-buru.
“Pagi,” sapanya.
“Telat sepuluh menit,” jawab Laras tanpa menoleh, tangannya masih sibuk menuang kopi.
Nada suaranya ringan. Hampir seperti bercanda.
Hampir.
Arkan tersenyum tipis. “Iya. Maaf.”
Laras mengangguk. Tidak menambahkan apa-apa.
Pagi itu tetap berjalan.
Pelanggan datang. Pesanan masuk. Suara mesin kopi bersahut-sahutan dengan obrolan ringan.
Arkan mencoba kembali ke rutinitasnya—membantu mencuci gelas, mengantar pesanan, berdiri di dekat Laras seperti biasa.
Tapi ritmenya… sedikit berbeda.
Ia beberapa kali melirik ponselnya. Mengetik cepat. Lalu menyimpannya lagi.
“Mas,” panggil Laras pelan saat mereka berdiri bersebelahan. “Fokus.”
Arkan tersadar. “Hah?”
“Kopinya hampir tumpah.”
Arkan melihat cangkir di tangannya. Cairan hitam itu sudah mendekati bibir gelas.
“Oh—iya.”
Ia menarik tangannya sedikit, lalu tertawa kecil. “Maaf.”
Laras tidak ikut tertawa kali ini.
Sekitar pukul delapan, seorang pelanggan memesan dua latte dan satu cappuccino.
Arkan yang menerima pesanan itu, seperti biasa.
“Dua latte, satu cappuccino,” ulangnya.
Beberapa menit kemudian, saat pesanan siap, Laras melihat ke tray.
Dua cappuccino. Satu latte.
“Mas,” panggilnya.
Arkan menoleh. “Iya?”
“Kebalik.”
Arkan mengerutkan kening. “Serius?”
Laras menunjuk cangkir. “Ini cappuccino semua hampir.”
Arkan terdiam sebentar. Lalu menghembuskan napas pelan.
“Maaf.”
Laras menggeleng. “Nggak apa-apa. Aku ulang.”
Ia mengambil alih tanpa nada marah.
Tapi juga… tanpa senyum.
Rina yang melihat dari jauh mendekat pelan.
“Mas Arkan lagi kenapa sih?” bisiknya ke Laras.
“Lagi sibuk,” jawab Laras singkat.
“Kelihatan banget nggak fokus.”
Laras tidak menjawab.
Karena ia juga melihatnya.
Dan mulai merasakannya.
Menjelang pukul sembilan, kedai mulai sedikit lengang.
Laras menuangkan Americano dan meletakkannya di depan Arkan seperti biasa.
“Ini.”
Arkan mengangguk. “Makasih.”
Ia meminum kopi itu, tapi tidak seperti biasanya. Tidak menikmati. Hanya seperti… kebiasaan.
Laras duduk di depannya.
Untuk beberapa detik, mereka diam.