Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #21

bab 21

Ruang meeting di lantai dua puluh itu terlalu dingin.

Bukan karena AC yang menyala terlalu rendah, tapi karena suasana di dalamnya yang tidak pernah benar-benar hangat.

Arkan duduk di ujung meja panjang, jasnya rapi, laptop terbuka di depannya. Di layar, slide presentasi menampilkan grafik pertumbuhan, proyeksi pasar, dan angka-angka yang terus naik.

Di sekelilingnya, orang-orang berbicara cepat. Istilah bisnis berseliweran seperti peluru.

“Market penetration di regional Southeast Asia masih underutilized…”

“Kalau kita masuk Q3, kita bisa ambil momentum…”

“Singapore akan jadi hub utama…”

Arkan mendengarkan.

Atau setidaknya, terlihat seperti mendengarkan.

Tangannya memegang pulpen, mengetuk meja pelan. Matanya tertuju pada layar.

Tapi pikirannya…

Tidak sepenuhnya di sana.

“Arkan.”

Suara itu memanggilnya.

Ia mengangkat kepala.

Daniel berdiri di depan, menatapnya langsung.

“We need your input.”

Semua mata beralih ke arahnya.

Arkan menarik napas pendek.

“Kalau kita masuk Singapura,” katanya tenang, “kita harus siap dengan kompetisi yang jauh lebih agresif. Bukan cuma soal market share, tapi positioning. Kita harus jelas—kita mau jadi pemain utama, atau cuma ikut arus.”

Ruangan hening beberapa detik.

Lalu seseorang mengangguk.

Daniel tersenyum tipis. “Exactly why we need you there.”

Kalimat itu jatuh begitu saja.

Tapi dampaknya… tidak sederhana.

Meeting selesai satu jam kemudian.

Orang-orang keluar satu per satu, membawa laptop, kopi, dan rencana masing-masing.

Arkan tetap duduk di kursinya beberapa detik lebih lama.

Laptopnya masih terbuka.

Slide terakhir masih terpampang:

“Regional Expansion Strategy – Singapore Lead: Arkan Wiratama”

Ia menatap tulisan itu lama.

Seolah sedang mencoba memastikan—apakah itu benar-benar dirinya.

“Still thinking?”

Suara Daniel membuatnya menoleh.

Pria itu berdiri di samping meja, tangan di saku, ekspresinya santai tapi tajam.

Arkan menutup laptop perlahan.

“Iya.”

Daniel mengangguk pelan. “Understandable. It’s a big move.”

“Bukan cuma soal kerjaan,” jawab Arkan.

Daniel mengangkat alis. “There’s someone?”

Arkan tidak langsung menjawab.

Itu sudah cukup menjadi jawaban.

Daniel tersenyum tipis. “That complicates things.”

Arkan menghembuskan napas pelan. “A bit.”

Daniel bersandar di meja.

“Listen, Arkan. Opportunities like this don’t come often. You know that.”

“I know.”

“You’ve worked for this your whole career.”

Kalimat itu menancap.

Karena itu benar.

Selama bertahun-tahun, Arkan hidup dengan ritme yang sama:

kerja, target, naik, lebih tinggi, lebih besar.

Tidak ada ruang untuk berhenti.

Tidak ada ruang untuk ragu.

Sampai…

Ia bertemu Laras.

“Take your time,” lanjut Daniel. “But not too long.”

Arkan mengangguk.

“I won’t.”

Siang itu, Arkan kembali ke ruang kerjanya.

Ruangan luas dengan dinding kaca, pemandangan kota Jakarta terbentang di luar. Mobil-mobil kecil bergerak seperti aliran yang tidak pernah berhenti.

Dulu, pemandangan ini selalu membuatnya merasa… di atas.

Sekarang?

Entah kenapa terasa jauh.

Ia duduk di kursinya, membuka laptop.

Email tentang Singapura masih ada di sana.

Belum dijawab.

Ia membuka file lain. Mencoba fokus ke pekerjaan.

Lima menit.

Sepuluh menit.

Lihat selengkapnya