Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #22

bab 22

Pagi itu datang dengan cahaya yang lebih hangat dari biasanya.

Sinar matahari masuk dari jendela besar Laras Kopi, memantul di permukaan meja kayu yang baru saja dilap. Udara terasa ringan, tidak terlalu panas, tidak juga dingin—cukup untuk membuat orang ingin duduk lebih lama.

Laras berdiri di balik counter dengan semangat yang berbeda.

Di papan menu kecil di samping mesin kopi, ada tulisan baru dengan kapur putih:

“Menu Baru: Caramel Sea Salt Latte”

“Live Acoustic – Sabtu Malam”

Rina berdiri di depannya, tangan bersedekap, menatap papan itu dengan ekspresi bangga.

“Ini keren sih, Lar. Serius.”

Laras tersenyum kecil. “Cuma coba-coba.”

“Coba-coba kamu tuh selalu berhasil,” balas Rina cepat.

Laras tertawa pelan.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, dadanya terasa lebih ringan.

“Kita siap?” tanya Rina.

“Siap.”

Pintu dibuka.

Lonceng berdenting.

Dan hari pun dimulai.

Pelanggan datang lebih cepat dari biasanya.

Beberapa wajah baru terlihat penasaran dengan menu baru, beberapa pelanggan lama tersenyum saat melihat perubahan kecil di kedai itu.

“Aku coba yang baru ya, Mbak,” kata seorang perempuan muda sambil menunjuk menu.

“Caramel Sea Salt Latte?”

“Iya.”

Laras mengangguk, tangannya langsung bergerak. Menggiling kopi, menuang susu, menambahkan sirup dengan takaran yang sudah ia uji berkali-kali semalam.

Gerakannya cepat, tapi tetap rapi.

Terlatih.

Hidup.

Beberapa menit kemudian, pelanggan itu menyesap minumannya.

Lalu matanya langsung berbinar.

“Ini enak banget.”

Laras tersenyum, sedikit lega.

“Terima kasih.”

Rina yang melihat dari samping langsung berbisik, “Udah, fix. Ini bakal jadi best seller.”

Laras hanya tertawa kecil.

Tapi di dalam hatinya, ada rasa bangga yang tumbuh perlahan.

Menjelang siang, kedai mulai semakin ramai.

Seorang mahasiswa memainkan gitar kecil di sudut ruangan, mencoba sound check untuk acara Sabtu nanti. Suaranya belum sempurna, tapi cukup untuk menambah suasana hidup.

Laras berdiri di tengah semua itu.

Melihat.

Mendengar.

Merasakan.

Ini bukan lagi sekadar kedai kecil yang bertahan.

Ini mulai jadi… sesuatu.

Pintu terbuka lagi.

Lonceng berbunyi.

Dan kali ini, suasana sedikit berubah.

Rina yang sedang di kasir langsung berdiri lebih tegak.

“Selamat siang, Bu…”

Laras menoleh.

Bu Wiratama berdiri di depan pintu, mengenakan blouse krem yang elegan, tas kecil di tangannya. Wajahnya terlihat lebih lembut dari biasanya.

“Siang,” jawabnya.

Laras langsung berjalan mendekat.

“Silakan masuk, Bu.”

Nada suaranya sopan, tapi tidak lagi kaku seperti dulu.

Bu Wiratama mengangguk, lalu melangkah masuk perlahan.

Matanya menyapu seluruh ruangan.

Papan menu baru.

Kursi yang hampir penuh.

Aroma kopi yang kuat.

Dan suara gitar pelan di sudut ruangan.

Ia duduk di meja dekat jendela.

Tempat yang dulu ia pilih juga.

“Mau pesan apa, Bu?” tanya Laras.

Bu Wiratama menatap papan menu sebentar.

Lalu berkata, “Yang biasa. Americano.”

“Iya, Bu.”

Lihat selengkapnya