Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #23

Bab 23

Siang itu datang lebih lambat dari biasanya.

Langit Jakarta terlihat pucat, tertutup awan tipis yang menggantung tanpa hujan. Udara terasa gerah, tapi tidak cukup untuk membuat orang mengeluh—hanya cukup untuk membuat segalanya terasa sedikit tidak nyaman.

Laras berdiri di balik counter, menyusun cangkir-cangkir bersih satu per satu.

Kedai tidak terlalu ramai. Beberapa pelanggan duduk dengan laptop, satu pasangan berbicara pelan di sudut, dan Rina sibuk menghitung stok di dekat kasir.

Semua terasa… tenang.

Sampai pintu terbuka.

Lonceng berdenting.

Dan waktu seolah berhenti sepersekian detik.

Laras mendongak.

Tangannya langsung berhenti.

Di depan pintu, berdiri seseorang yang tidak ia duga akan datang lagi.

Ryan.

Tidak ada jas mahal. Tidak ada senyum percaya diri seperti dulu.

Ia hanya memakai kemeja sederhana, lengan sedikit kusut, wajahnya terlihat lebih kurus. Rambutnya tidak serapi biasanya.

Dan matanya…

Tidak lagi penuh keyakinan.

Rina yang melihat dari samping langsung menegang.

“Lar…” bisiknya pelan.

Laras tidak menjawab.

Matanya masih tertuju pada Ryan.

Ryan melangkah masuk pelan.

Tidak terburu-buru.

Tidak juga ragu sepenuhnya.

Ia berhenti di depan counter.

Jarak mereka sekarang hanya satu meja kayu.

“Hai, Laras.”

Suaranya pelan.

Berbeda.

Laras menarik napas.

Lalu menjawab dengan nada yang tenang, datar.

“Hai.”

Beberapa detik hening.

Pelanggan lain tidak memperhatikan. Dunia tetap berjalan.

Tapi di ruang kecil itu…

Udara terasa lebih berat.

“Aku… boleh duduk?” tanya Ryan.

Laras menatapnya sebentar.

Menilai.

Bukan sebagai seseorang yang pernah ia cintai.

Tapi sebagai seseorang yang… pernah melukai.

“Silakan,” jawabnya akhirnya.

Ryan memilih meja di dekat jendela.

Tempat yang tidak terlalu jauh.

Tapi juga tidak terlalu dekat.

Laras kembali ke counter.

Tangannya bergerak lagi.

Mekanis.

Tapi pikirannya…

Tidak.

Beberapa menit berlalu.

Ryan tidak langsung bicara lagi.

Ia hanya duduk.

Menatap sekitar.

Kedai itu.

Yang dulu hanya cerita dari Laras.

Sekarang nyata.

Dan hidup.

“Lar,” panggilnya akhirnya.

Laras menoleh.

“Aku bisa pesan kopi?”

Nada itu hampir terdengar seperti bercanda.

Hampir.

“Apa?” tanya Laras.

Ryan tersenyum kecil. “Rekomendasi kamu.”

Laras diam sejenak.

Lalu berkata, “Americano.”

Ryan mengangguk. “Oke.”

Saat Laras membuat kopi itu, tangannya tetap stabil.

Tidak gemetar.

Tidak seperti dulu.

Rina memperhatikannya dari samping.

Sedikit kagum.

Cangkir itu akhirnya sampai di meja Ryan.

“Ini.”

Ryan menatap kopi itu, lalu ke arah Laras.

“Terima kasih.”

Lihat selengkapnya