Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #24

bab 24

Pagi di Kemang kembali ramai.

Lampu kedai sudah menyala sejak subuh. Aroma kopi memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi roti yang baru keluar dari oven. Suara mesin espresso berdengung pelan, bersahut-sahutan dengan tawa pelanggan.

Laras berdiri di balik counter.

Seperti biasa.

Tapi ada satu hal yang berbeda.

Kursi di pojok dekat jendela… kosong.

“Lar, dua cappuccino!” panggil Rina dari kasir.

“Iya!” jawab Laras cepat.

Tangannya bergerak cekatan. Menggiling kopi, menekan portafilter, menuang susu dengan presisi.

Semua berjalan lancar.

Semua terlihat normal.

Hanya saja…

Tidak ada suara seseorang yang biasanya berdiri di sampingnya.

Tidak ada komentar kecil.

Tidak ada sentuhan singkat yang datang tanpa sadar.

“Mas Arkan belum datang?” tanya Rina tiba-tiba.

Laras tidak langsung menjawab.

Ia menuang susu sedikit lebih lama dari biasanya.

“Belum,” katanya akhirnya.

“Udah tiga hari ya?”

“Iya.”

Rina meliriknya.

“Kamu nggak nanya?”

Laras mengangkat bahu kecil. “Dia lagi sibuk.”

“Terus kamu percaya gitu aja?”

Laras tersenyum tipis. “Harus.”

Jam menunjukkan pukul sembilan.

Kedai semakin ramai.

Beberapa pelanggan baru datang karena rekomendasi teman. Ada yang memesan menu baru, ada juga yang hanya ingin duduk dan bekerja.

Kedai itu hidup.

Bahkan lebih hidup dari sebelumnya.

“Lar, ini laku banget loh menu barumu,” kata Rina sambil menunjukkan catatan pesanan. “Caramel Sea Salt Latte hampir habis.”

Laras mengangguk. “Bagus.”

“Harusnya kamu seneng banget.”

Laras tersenyum.

“Iya. Aku seneng.”

Dan itu tidak bohong.

Tapi juga… tidak sepenuhnya jujur.

Siang hari datang dengan cepat.

Laras duduk sebentar di kursi tinggi di balik counter, mengusap keningnya yang berkeringat.

Capek.

Tapi bukan itu yang mengganggu.

Ia melirik ke pintu.

Sekilas.

Refleks.

Kosong.

“Lar,” panggil Rina pelan. “Kamu nungguin ya?”

Laras langsung menoleh. “Nungguin siapa?”

Rina menaikkan alis. “Ya siapa lagi?”

Laras tertawa kecil, sedikit dipaksakan.

“Enggak lah.”

Tapi dalam hati…

Ia tahu.

Ponselnya bergetar.

Laras langsung mengambilnya.

Matanya cepat membaca layar.

Arkan:

Lihat selengkapnya