Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #25

Bab 25

Pagi itu Laras bangun lebih cepat dari biasanya.

Bukan karena harus membuka kedai lebih awal.

Bukan juga karena ada pesanan besar.

Tapi karena semalam—untuk pertama kalinya setelah beberapa hari yang terasa kosong—Arkan mengirim pesan yang berbeda.

Kalimatnya sederhana.

Tapi cukup untuk membuat Laras menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya.

Dan tanpa sadar… tersenyum.

Sekarang, jam baru menunjukkan pukul enam pagi.

Laras sudah berdiri di depan cermin kecil di kamar.

Ia merapikan rambutnya, lalu mengikatnya lagi. Membuka lagi. Mengikat lagi.

“Kenapa sih…” gumamnya pelan, sedikit kesal pada dirinya sendiri.

Padahal ini bukan pertama kalinya mereka pergi bersama.

Tapi rasanya… tetap berbeda.

Di kedai, suasana pagi berjalan seperti biasa.

Rina datang sambil membawa sarapan.

“Wah, ada yang kelihatan beda nih,” godanya sambil menyodorkan kantong plastik.

Laras pura-pura tidak dengar. “Apanya?”

“Lebih rapi. Lebih semangat. Lebih… berbunga-bunga.”

“Rina…”

Rina tertawa. “Mas Arkan ngajak pergi ya?”

Laras berhenti sebentar.

Lalu mengangguk kecil.

Rina langsung bersorak pelan. “Akhirnya!”

“Apanya yang akhirnya…”

“Ya akhirnya kalian keluar lagi setelah sekian hari dia sibuk terus.”

Laras tersenyum tipis.

“Iya.”

Hari itu kedai terasa lebih ringan.

Atau mungkin… Laras yang merasa lebih ringan.

Setiap kali melihat jam, ada rasa kecil yang tumbuh di dalam dadanya.

Menunggu.

Pukul dua siang.

Kedai mulai sedikit lengang.

Laras duduk sebentar di belakang counter, membuka ponselnya.

Tidak ada pesan baru.

Ia menghela napas kecil.

Mungkin dia lagi kerja, pikirnya.

Pukul tiga.

Laras mulai membereskan sebagian pekerjaan lebih cepat dari biasanya.

“Rin, nanti jam empat aku keluar ya,” katanya.

“Iya, tenang aja. Aku jaga,” jawab Rina sambil tersenyum.

“Kalau rame?”

“Justru bagus.”

Pukul tiga lewat tiga puluh.

Laras sudah mengganti apron dengan dress sederhana yang ia simpan di ruang belakang.

Tidak terlalu formal.

Tapi cukup untuk membuatnya merasa… siap.

Pukul empat kurang lima.

Laras berdiri di depan cermin kecil lagi.

Merapikan rambutnya sekali lagi.

Menarik napas.

Ponselnya bergetar.

Laras langsung mengambilnya.

Matanya cepat membaca layar.

Arkan:

Lar…

Beberapa detik kemudian, pesan kedua masuk.

Maaf. Meeting aku molor. Aku nggak bisa hari ini.

Waktu seolah berhenti.

Laras menatap layar itu.

Membaca ulang.

Sekali.

Dua kali.

Lihat selengkapnya