Pagi itu terasa lebih sunyi.
Padahal kedai tetap buka seperti biasa. Lampu menyala, mesin kopi bekerja, dan aroma biji kopi yang baru digiling tetap memenuhi ruangan.
Tapi ada sesuatu yang berubah.
Bukan di tempatnya.
Melainkan… di dalam diri Laras.
Ia berdiri di balik counter, menyiapkan pesanan seperti biasa.
Gerakannya tetap cepat.
Tepat.
Terlatih.
Tapi tidak ada senyum kecil yang biasanya muncul tanpa sadar.
Tidak ada lirikan ke arah pintu.
Tidak ada harapan yang diam-diam ia tunggu.
“Lar, satu latte!” panggil Rina.
“Iya.”
Laras menjawab singkat.
Tangannya langsung bergerak.
Rina memperhatikannya dari samping.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan karena Laras marah.
Justru karena… terlalu tenang.
“Mas Arkan masih belum ke sini?” tanya Rina pelan.
Laras tidak langsung menjawab.
Ia menuang susu dengan hati-hati.
Baru setelah itu berkata,
“Belum.”
“Udah hampir seminggu ya.”
“Iya.”
Rina menahan diri untuk tidak bicara lebih jauh.
Karena ia tahu—
Kadang diam lebih baik.
Pukul sepuluh pagi.
Pintu kedai terbuka.
Lonceng berdenting.
Laras tidak langsung menoleh.
Refleks itu… sudah mulai ia tahan.
“Pagi.”
Suara itu.
Laras berhenti.
Perlahan menoleh.
Arkan berdiri di depan pintu.
Masih seperti biasa.
Rapi.
Tenang.
Tapi ada lelah yang tidak bisa disembunyikan di wajahnya.
Untuk beberapa detik—
Tidak ada yang bergerak.
Rina langsung nyengir kecil dari belakang.
“Tumben muncul,” gumamnya pelan.
Arkan melangkah masuk.
Mendekat ke counter.
Matanya langsung mencari Laras.
“Hai.”
Laras menatapnya.
Beberapa detik.
Lalu menjawab,
“Hai.”
Nada yang sama.
Tenang.
Datar.
Arkan sedikit mengernyit.
Ia merasakan perbedaannya.
“Aku… lama nggak ke sini ya,” katanya, mencoba ringan.
Laras mengangguk kecil.
“Iya.”
Tidak ada tambahan.
Tidak ada candaan.
Arkan menarik napas pelan.
“Aku pesan seperti biasa.”
“Iya.”
Laras membuat Americano itu tanpa banyak bicara.
Gerakannya presisi.
Tapi tidak ada kehangatan kecil yang biasanya ia selipkan.
Cangkir itu diletakkan di depan Arkan.
“Ini.”
“Makasih.”
Jari mereka tidak bersentuhan.
Tidak seperti dulu.