Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #27

Bab 27

Pagi itu datang dengan udara yang lebih dingin dari biasanya.

Bukan karena hujan, tapi karena angin yang berhembus lebih kencang dari arah jalan utama. Daun-daun di depan kedai bergerak pelan, sesekali terdengar suara kendaraan lewat yang lebih jelas dari biasanya.

Laras sudah membuka kedai.

Seperti biasa.

Mesin kopi menyala.

Cangkir-cangkir tersusun rapi.

Rina masih di belakang, sibuk memotong roti untuk display pagi.

Laras berdiri di depan counter.

Menatap pintu.

Bukan karena menunggu.

Tapi karena… belum tahu harus memikirkan apa.

Percakapan kemarin masih terngiang.

“Aku cuma butuh Mas… ada.”

Dan jawaban yang tidak pernah benar-benar datang.

“Lar, kamu ngelamun lagi,” suara Rina memecah pikirannya.

Laras tersadar.

“Hah? Nggak kok.”

Rina mengangkat alis. “Yakin?”

“Iya.”

Pintu terbuka.

Lonceng berbunyi.

Seorang pelanggan masuk.

Hari dimulai.

Pagi itu berjalan seperti biasanya.

Pesanan datang.

Minuman dibuat.

Tawa kecil terdengar di beberapa sudut.

Laras tetap bekerja.

Fokus.

Tenang.

Sampai pintu terbuka lagi.

Lonceng berdenting.

Laras tidak langsung menoleh.

Tapi entah kenapa…

Hatinyatahu.

“Pagi, Lar.”

Suara itu.

Lebih pelan dari biasanya.

Laras menoleh.

Arkan berdiri di sana.

Tanpa jas.

Hanya kemeja putih dengan lengan sedikit digulung.

Dan di tangannya—

Ada paper bag kecil.

Untuk beberapa detik, Laras hanya menatapnya.

Tanpa ekspresi.

Rina yang melihat langsung pura-pura sibuk.

Padahal matanya sesekali melirik.

Arkan mendekat.

Langkahnya tidak secepat biasanya.

Lebih hati-hati.

“Hai,” katanya lagi.

Laras mengangguk kecil.

“Hai.”

Nada yang masih sama.

Arkan menaruh paper bag itu di atas counter.

“Aku… bawain sesuatu.”

Laras melirik sekilas.

Tidak langsung menyentuhnya.

“Apa?”

“Croissant.”

Ia tersenyum kecil. “Yang dulu kita coba bikin… tapi gagal itu.”

Laras diam.

Beberapa detik.

“Aku coba lagi tadi pagi,” lanjut Arkan. “Dan… kali ini nggak keras.”

Sedikit usaha bercanda.

Tapi tidak sepenuhnya sampai.

Laras akhirnya mengambil paper bag itu.

Membukanya pelan.

Di dalamnya ada dua croissant.

Masih hangat.

Ia memegang salah satunya.

Lihat selengkapnya