Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #28

Bab 28

Hujan turun lagi malam itu.

Bukan hujan deras seperti saat Laras pertama kali bertemu Arkan, tapi cukup untuk membuat jalanan Kemang basah dan lampu-lampu kota terlihat buram.

Laras berdiri di depan kedai sambil menurunkan rolling door setengah. Jam sudah hampir pukul sepuluh malam.

Hari itu melelahkan.

Bukan cuma karena kedai ramai.

Tapi karena pikirannya tidak pernah benar-benar tenang.

“Lar, aku pulang dulu ya,” kata Rina sambil memakai helm.

“Iya. Hati-hati.”

Rina menatap Laras sebentar.

“Kamu jangan pulang terlalu malam.”

Laras mengangguk kecil.

“Iya.”

Setelah Rina pergi, suasana jadi jauh lebih sunyi.

Hanya ada suara hujan kecil di luar dan bunyi pendingin kulkas minuman yang berdengung pelan.

Laras kembali masuk ke dalam.

Membereskan meja.

Menyusun kursi.

Mengelap counter yang sebenarnya sudah bersih.

Tangannya sibuk.

Tapi pikirannya tidak.

Sudah hampir dua hari Arkan tidak datang lagi.

Mereka masih bertukar pesan.

Masih saling mengabari.

Tapi rasanya…

Tidak sama.

Laras menghela napas panjang.

Lalu mengambil apron dan menggantungnya di belakang.

Ia hendak mematikan lampu ketika—

Pintu diketuk pelan dari luar.

Tok.

Tok.

Laras menoleh.

Dan jantungnya langsung berdegup sedikit lebih cepat.

Arkan berdiri di balik kaca pintu.

Kemeja hitamnya sedikit basah karena hujan. Rambutnya juga lembap, seolah ia baru turun dari mobil dan langsung berjalan cepat ke sini.

Laras membuka pintu.

“Mas?”

Arkan menatapnya beberapa detik.

“Aku ganggu?”

Laras menggeleng pelan.

“Nggak.”

Hening sebentar.

Suara hujan terdengar lebih jelas.

“Aku boleh masuk?” tanya Arkan.

“Iya.”

Arkan masuk perlahan.

Laras menutup pintu lagi.

Kedai itu kini hanya berisi mereka berdua.

Dan hujan.

“Kamu belum pulang?” tanya Arkan.

“Belum selesai beres-beres.”

Arkan mengangguk kecil.

Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri diam.

Ada terlalu banyak hal yang ingin dibicarakan.

Dan terlalu banyak yang ditahan.

“Aku bikinin kopi?” tanya Laras akhirnya.

Arkan tersenyum tipis.

“Boleh.”

Laras bergerak ke balik counter.

Menyalakan lagi mesin yang tadi hampir dimatikan.

Tangannya otomatis bekerja.

Menggiling biji kopi.

Menuang air.

Menyusun cangkir.

Arkan memperhatikannya diam-diam.

Dan dadanya terasa sesak.

Karena tempat ini…

Orang ini…

Sudah terasa seperti rumah.

Lihat selengkapnya