Hujan masih turun di luar.
Air membasahi kaca jendela Laras Kopi, membuat lampu-lampu jalan di Kemang terlihat buram dan jauh. Suara rintiknya memenuhi ruang kecil itu, bercampur dengan aroma kopi yang mulai dingin di atas meja.
Laras masih berdiri dekat jendela.
Sementara Arkan berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Pertanyaan itu masih menggantung di antara mereka.
Dan sampai beberapa detik berlalu—
Arkan belum menjawab.
Laras menatapnya pelan.
Awalnya ia berharap.
Mungkin Arkan akan langsung bilang:
Aku pilih kamu.
Atau:
Aku nggak akan pergi.
Atau setidaknya…
sesuatu yang membuat dadanya sedikit lebih tenang.
Tapi yang datang justru diam.
Dan semakin lama diam itu berlangsung…
Semakin sakit rasanya.
Arkan mengusap wajahnya perlahan.
Tatapannya turun sebentar ke lantai.
Lalu kembali ke Laras.
Matanya terlihat lelah.
Sangat lelah.
“Aku…”
Kalimat itu terputus.
Laras menunggu.
Masih menunggu.
“Aku nggak tahu.”
Tiga kata itu jatuh pelan.
Tapi menghancurkan sesuatu di dalam hati Laras.
Ia tidak langsung bicara.
Tidak menangis.
Tidak marah.
Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih sesak.
Arkan langsung melangkah mendekat sedikit.
“Laras, dengerin aku dulu—”
“Ternyata sesulit itu ya,” potong Laras pelan.
Arkan terdiam.
“Buat milih aku.”
Kalimat itu nyaris terdengar seperti bisikan.
Tapi tepat mengenai dada Arkan.
“Bukan gitu,” katanya cepat.
“Aku cuma lagi bingung—”
“Mas selalu bingung.”
Hening.
Laras tertawa kecil.
Rapuh.
“Dan aku selalu nunggu.”
Arkan membuka mulut.
Menutupnya lagi.
Karena lagi-lagi…
Ia tidak punya jawaban yang cukup.
Hujan semakin deras di luar.
Seperti malam pertama mereka bertemu.
Tapi malam ini tidak terasa hangat.
Laras berjalan pelan kembali ke meja.
Duduk.
Menyandarkan tubuhnya lemah ke kursi.
“Aku capek takut kehilangan orang,” katanya pelan sambil menatap cangkir kopi di depannya.
“Dan sekarang aku harus takut lagi.”
Arkan ikut duduk di depannya.
Lebih dekat.
“Aku nggak mau bikin kamu ngerasa sendirian.”
“Tapi aku udah ngerasa begitu.”
Kalimat itu langsung membuat Arkan diam.
Untuk pertama kalinya sejak mengenal Laras…
Ia melihat perempuan itu benar-benar kelelahan secara emosional.
Bukan marah.
Bukan drama.
Tapi lelah.
Dan itu jauh lebih menyakitkan.
“Aku salah,” kata Arkan lirih.