Jalanan mulai ramai sejak pukul tujuh. Suara motor bercampur dengan klakson mobil yang bersahutan di lampu merah ujung jalan. Matahari muncul malu-malu setelah hujan semalaman, meninggalkan udara dingin yang masih tersisa.
Dan seperti biasa—
Laras Kopi tetap buka.
Laras berdiri di balik counter sambil menata pastry di etalase kaca.
Croissant.
Banana bread.
Dua slice tiramisu yang dibuatnya semalam.
Tangannya sibuk, tapi pikirannya masih sering kosong di tengah pekerjaan.
“Lar, gula aren tinggal dua botol,” kata Rina dari belakang.
“Iya, nanti aku order lagi.”
“Terus susu oat juga hampir habis.”
“Oke.”
Jawabannya cepat.
Pendek.
Terlalu pendek.
Rina melirik sahabatnya itu diam-diam.
Sudah beberapa hari Laras seperti ini.
Tidak sedih berlebihan.
Tidak menangis.
Tetap kerja.
Tetap tersenyum ke pelanggan.
Tapi ada sesuatu yang seperti… ditarik mundur dari dirinya.
“Semalam Mas Arkan chat?” tanya Rina hati-hati.
Laras berhenti sebentar.
Lalu kembali menyusun pastry.
“Chat.”
“Apa katanya?”
“Ngucapin semangat kerja.”
Rina menunggu lanjutan.
Tapi tidak ada.
“Udah?”
“Iya.”
Hening sesaat.
Rina akhirnya menghela napas kecil.
Ia tidak tahu harus membela siapa sekarang.
Karena ia bisa melihat keduanya sama-sama berusaha.
Tapi juga sama-sama tersesat.
Bel pintu berbunyi.
Pelanggan pertama masuk.
Hari kembali berjalan.
Jam demi jam berlalu.
Kedai mulai ramai.
Suara mesin kopi tidak berhenti berbunyi.
Aroma espresso memenuhi ruangan.
Laras bekerja seperti biasa.
Bahkan terlalu biasa.
“Morning, Mbak Laras!”
“Pagi, Kak.”
“Satu caramel latte kayak biasa ya.”
“Siap.”
Ia tersenyum.
Melayani.
Mengobrol ringan.
Tidak ada yang tahu kalau setiap kali pintu berbunyi—
Ada bagian kecil dari dirinya yang refleks berharap Arkan masuk.
Dan setiap kali bukan Arkan—
Ada rasa kecewa kecil yang cepat-cepat ia sembunyikan sendiri.
Pukul sepuluh pagi.
Pintu kembali terbuka.
Kali ini—
Arkan benar-benar datang.
Laras yang sedang menuang susu berhenti sepersekian detik.
Hanya sepersekian detik.
Lalu kembali bekerja seperti biasa.
Arkan masuk pelan.
Tatapannya langsung mencari Laras.
Dan ketika mata mereka bertemu—
Ada jeda kecil yang terasa canggung.
“Hai,” kata Arkan pelan.
“Hai.”
Masih sopan.
Masih lembut.
Tapi ada jarak yang mulai terasa nyata.
“Americano?” tanya Laras.
Arkan mengangguk.
“Iya.”
Tidak ada tambahan: