Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #31

bab 31

Pagi itu Laras Kopi lebih ramai dari biasanya.

Sejak video review dari food blogger kemarin diunggah, jumlah pelanggan meningkat cukup drastis. Beberapa orang bahkan datang khusus hanya untuk mencoba “kopi Gayo medium roast yang katanya bikin nyaman.”

Kalimat itu membuat Laras tersenyum kecil setiap mendengarnya.

Karena tanpa sadar…

Ia langsung teringat seseorang.

“Lar! Dua iced latte lagi!” teriak Rina dari kasir.

“Iya!”

Laras bergerak cepat di balik counter.

Tangannya sibuk menuang espresso dan susu dingin, sementara suara pelanggan memenuhi ruangan kecil itu.

Ada tawa.

Ada bunyi sendok beradu dengan cangkir.

Ada suara kamera ponsel yang memotret makanan.

Kedai kecil itu akhirnya mulai hidup seperti yang dulu ia impikan.

Dan seharusnya…

Laras merasa bahagia sepenuhnya.

Tapi di sela semua kesibukan itu—

Ada satu kursi yang terasa terlalu kosong.

Meja pojok dekat jendela.

Tempat Arkan biasanya duduk.

Sudah tiga hari ia tidak datang pagi-pagi lagi.

Mereka masih bertukar pesan sesekali.

Masih saling mengabari.

Tapi semuanya terasa tipis.

Seperti dua orang yang sama-sama hati-hati agar tidak menyentuh luka yang belum sembuh.

“Excuse me, Mbak.”

Laras menoleh cepat.

Seorang pelanggan perempuan tersenyum ramah.

“Mas yang biasanya di pojokan mana ya? Yang suka laptop-an itu.”

Pertanyaan sederhana itu membuat dada Laras terasa aneh.

“Oh… lagi sibuk kerja mungkin,” jawabnya sambil tersenyum tipis.

“Kirain pasangan Mbak,” kata pelanggan itu sambil tertawa kecil.

“Kelihatan cocok soalnya.”

Laras ikut tertawa kecil.

Tapi setelah pelanggan itu pergi—

Senyumnya perlahan hilang.

Rina yang melihat langsung mendekat.

“Masih kepikiran?”

Laras pura-pura sibuk menyusun gelas.

“Nggak.”

“Bohong.”

Laras menghela napas pelan.

“Rasanya sekarang semua orang lebih sadar dia nggak ada dibanding aku sendiri.”

Rina diam sebentar.

Lalu berkata hati-hati,

“Karena dia emang biasanya selalu ada, Lar.”

Kalimat itu langsung menancap dalam.

Karena benar.

Arkan pernah menjadi bagian paling konsisten dalam hari-harinya.

Dan sekarang…

Kehilangan rutinitas kecil itu terasa jauh lebih besar dari yang ia kira.

Siang hari.

Kedai mulai sedikit lengang.

Laras duduk sebentar sambil mengecek stok dan pemasukan.

Matanya lelah.

Tapi pikirannya lebih lelah lagi.

Ponselnya bergetar.

Nama Arkan muncul di layar.

Laras menatapnya beberapa detik sebelum mengangkat.

“Halo?”

“Lagi sibuk?”

Suara Arkan terdengar berat.

Seperti orang yang kurang tidur.

“Lumayan rame.”

“Hm.”

Hening beberapa detik.

Tidak ada yang langsung tahu harus bicara apa.

“Aku cuma mau denger suara kamu,” kata Arkan pelan.

Dan entah kenapa—

Kalimat itu justru membuat hati Laras semakin sakit.

“Mas lagi di kantor?”

“Iya.”

Suara keyboard dan orang-orang bicara samar terdengar dari sana.

“Kamu udah makan?”

Pertanyaan itu terdengar begitu biasa.

Begitu familiar.

Lihat selengkapnya