Sabtu malam datang lebih pelan dari biasanya.
Sejak pagi Laras sudah sibuk di kedai karena akhir pekan selalu berarti pelanggan lebih ramai. Aroma kopi bercampur dengan wangi roti panggang memenuhi ruangan kecil itu sejak jam delapan pagi.
Dan seperti beberapa minggu terakhir—
Laras bekerja tanpa banyak berhenti.
Seolah kesibukan bisa membuat pikirannya lebih tenang.
“Lar, meja tiga minta tambah saus caramel!” seru Rina.
“Iya!”
Laras bergerak cepat dari mesin espresso ke meja plating.
Tangannya sibuk.
Pikirannya juga berusaha sibuk.
Karena kalau tidak—
Ia akan kembali memikirkan Arkan.
Singapura.
Dan semua hal yang belum punya jawaban.
Ponselnya bergetar di saku apron.
Laras sempat melirik.
Nama Arkan muncul.
Dadanya langsung terasa berbeda.
Masih begitu.
Masih selalu begitu.
Ia mengangkat telepon sambil tetap membereskan cangkir.
“Halo?”
“Hai.”
Suara Arkan terdengar lebih lembut malam itu.
Tidak seberat beberapa hari terakhir.
“Kamu sibuk?”
“Lumayan.”
“Tapi nanti malam… bisa keluar?”
Laras berhenti sepersekian detik.
“Aku jemput habis tutup kedai,” lanjut Arkan cepat.
“Cuma makan malam biasa.”
Laras menunduk sebentar.
Hatinya langsung ingin berkata iya.
Tapi ada bagian kecil dari dirinya yang kini lebih hati-hati.
“Kenapa tiba-tiba?”
“Aku kangen kamu.”
Jawaban itu terlalu jujur.
Dan terlalu tepat sasaran.
Laras memejamkan mata sebentar.
Lalu menghembuskan napas pelan.
“…oke.”
Di seberang sana, Arkan tersenyum kecil untuk pertama kalinya hari itu.
“Jam sembilan aku jemput.”
“Iya.”
Setelah telepon ditutup, Rina langsung muncul di samping Laras seperti hantu.
“Dia ngajak keluar ya?”
Laras langsung melotot kecil.
“Kamu nguping ya?”
“Ekspresi kamu keliatan banget.”
Laras gagal menahan senyum tipis.
Dan Rina langsung sadar—
Sudah lama ia tidak melihat senyum itu muncul tulus.
“Mending pergi deh,” kata Rina sambil menyenggol bahunya pelan.
“Kalian butuh ngobrol yang nggak tegang terus.”
Laras terdiam sebentar.
Lalu berkata pelan,
“Aku juga capek ribut di kepala sendiri.”
Malam datang.
Kedai akhirnya tutup lebih lambat dari biasanya.
Jam menunjukkan pukul sembilan lewat sedikit saat Arkan datang.
Mobilnya berhenti di depan kedai.
Dan untuk beberapa detik—
Laras hanya berdiri di balik kaca sambil melihat pria itu turun dari mobil.
Arkan memakai kemeja hitam sederhana dengan lengan tergulung.
Rambutnya sedikit berantakan karena angin malam.
Dan seperti biasa—
Kehadirannya tetap membuat jantung Laras tidak pernah benar-benar tenang.
Arkan masuk sambil tersenyum kecil.
“Hai.”
“Hai.”
Hening sesaat.