Senin pagi datang lebih sibuk dari biasanya.
Sejak review media sosial Laras Kopi semakin ramai dibicarakan, jumlah pelanggan meningkat hampir setiap hari. Bahkan sebelum jam delapan pagi, beberapa meja sudah penuh oleh pekerja remote dan mahasiswa yang membawa laptop.
Suara mesin espresso nyaris tidak berhenti.
Aroma kopi memenuhi ruangan.
Dan Laras—
Bergerak cepat di tengah semuanya.
“Satu cappuccino!”
“Dua iced aren latte!”
“Croissant habis belum, Mbak?”
“Iya, tunggu sebentar ya!”
Laras menjawab semuanya dengan senyum profesional.
Tangannya sibuk.
Kakinya nyaris tidak berhenti melangkah.
Dan entah sejak kapan—
Kesibukan mulai terasa seperti tempat berlindung.
Karena saat ia terlalu sibuk…
Ia tidak punya waktu untuk memikirkan Arkan.
“Lar!”
Rina muncul dari dapur kecil sambil membawa nampan.
“Kita butuh tambah staff kalau gini terus.”
Laras tertawa kecil sambil tetap menuang espresso.
“Belum ada budget.”
“Kalau rame terus begini ada nanti.”
Kalimat itu membuat Laras diam sepersekian detik.
Karena dulu—
Ia bahkan takut kedai ini tidak akan bertahan.
Dan sekarang…
Orang-orang mulai datang tanpa henti.
Ponselnya bergetar di atas meja counter.
Nama Arkan muncul di layar.
Laras melihatnya sekilas.
Lalu kembali bekerja.
Tidak diangkat.
Bukan karena marah.
Bukan juga ingin menghukum.
Ia hanya…
Belum siap.
Rina melirik layar ponsel itu.
Lalu menatap Laras hati-hati.
“Kamu nggak angkat?”
“Nanti aja.”
“Biasanya kamu langsung panik kalau dia nelpon.”
Laras tersenyum kecil.
Tipis.
“Makanya sekarang aku belajar nggak begitu lagi.”
Jawaban itu terdengar sederhana.
Tapi ada rasa sedih yang diam-diam terselip di dalamnya.
Siang harinya, kedai sedikit lebih tenang.
Laras akhirnya duduk sebentar sambil membuka laptop.
Di depannya ada brosur workshop UMKM dan branding bisnis kopi yang ia daftar beberapa hari lalu.
Rina langsung membulatkan mata.
“Wih. Serius ikut?”
Laras mengangguk.
“Kayaknya aku harus mulai belajar banyak hal kalau mau kedai ini berkembang.”
“Tumben semangat banget.”
Laras menatap brosur itu lama.
Lalu berkata pelan,
“Aku nggak bisa terus bergantung sama orang lain.”
Kalimat itu langsung membuat Rina diam.
Karena ia tahu—
Yang dibicarakan Laras bukan cuma soal bisnis.
Workshop itu diadakan sore hari di sebuah creative space kecil di Jakarta Selatan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama—
Laras pergi ke suatu tempat tanpa memberi tahu Arkan dulu.
Ruangan workshop cukup ramai.
Ada pemilik coffee shop kecil lain.