Beberapa hari setelah workshop itu, hidup Laras mulai terasa berbeda.
Bukan karena sesuatu yang besar terjadi.
Justru karena hal-hal kecil.
Ia mulai bangun lebih pagi untuk mencatat stok dan pemasukan kedai sebelum buka.
Mulai membaca buku bisnis yang dulu diberikan Bu Wiratama.
Mulai mencoba resep baru sendiri tanpa menunggu pendapat siapa pun.
Dan yang paling terasa—
Ia mulai belajar menikmati waktunya tanpa selalu menunggu pesan dari Arkan.
Bukan berarti rasa sayangnya hilang.
Tidak.
Ia masih memikirkan pria itu setiap hari.
Masih refleks tersenyum kalau melihat Americano favorit Arkan dibuat.
Masih merasa nyaman setiap mendengar suara beratnya di telepon.
Tapi sekarang—
Laras mulai pelan-pelan membangun dunia kecilnya sendiri lagi.
Dan tanpa sadar…
Perubahan itu mulai dirasakan Arkan.
Pagi itu Arkan datang ke kedai lebih awal dari biasanya.
Jam baru menunjukkan pukul tujuh lewat sedikit.
Biasanya Laras langsung menyambutnya dengan senyum kecil dan,
“Americano?”
Tapi hari ini—
Laras sedang sibuk berbicara dengan seorang supplier kopi di telepon sambil mencatat sesuatu di notebook.
“Iya, Mas. Kalau ambil tiga kilo per minggu bisa kurang sedikit nggak harganya?”
Arkan berdiri dekat pintu beberapa detik.
Memperhatikan.
Dan entah kenapa—
Ia merasa seperti orang yang terlambat datang ke kehidupan Laras pagi itu.
“Mas Arkan!” sapa Rina lebih dulu.
“Tumben pagi banget.”
Arkan tersenyum kecil.
“Iya.”
Baru setelah telepon selesai, Laras menoleh.
Dan wajahnya langsung sedikit berubah hangat.
“Hai.”
“Hai.”
Arkan mendekat ke counter.
“Kamu sibuk.”
Laras tertawa kecil sambil menutup notebook.
“Lagi coba belajar serius.”
“Bagus.”
Jawaban Arkan tulus.
Tapi ada rasa aneh kecil yang ia sembunyikan sendiri.
Karena biasanya—
Hal pertama yang Laras lakukan saat ia datang adalah fokus padanya.
Sekarang tidak lagi.
Dan ia tidak tahu kenapa perubahan kecil itu membuat dadanya terasa kosong.
“Americano seperti biasa?” tanya Laras.
Arkan mengangguk.
“Iya.”
Saat Laras membuat kopi, Arkan memperhatikannya diam-diam.
Gerakannya lebih percaya diri sekarang.
Tatapannya lebih hidup.
Dan anehnya—
Arkan bangga.
Tapi juga takut.
Karena Laras terlihat seperti seseorang yang perlahan belajar berdiri tanpa perlu bersandar lagi.
“Kamu habis dari workshop kemarin jadi semangat banget ya,” kata Arkan sambil menerima kopinya.
Laras tersenyum kecil.
“Iya. Aku jadi sadar ternyata masih banyak yang harus aku pelajari.”
“Capek?”
“Capek,” jawab Laras jujur sambil tertawa kecil. “Tapi enak.”