Malam itu Jakarta diguyur hujan lagi.
Tidak terlalu deras.
Hanya rintik panjang yang membuat jalanan basah dan udara terasa dingin.
Laras berdiri sendirian di depan mesin espresso sambil membersihkannya perlahan. Kedai sudah tutup sejak tiga puluh menit lalu, tapi ia belum ingin pulang.
Akhir-akhir ini…
Pulang terasa lebih sepi.
“Lar, aku duluan ya!” teriak Rina sambil memakai jaket.
“Iya, hati-hati.”
“Kamu jangan pulang terlalu malam.”
Laras mengangguk kecil sambil tersenyum.
Pintu kedai tertutup.
Bel berbunyi pelan.
Dan setelah itu—
Sunyi.
Hanya ada suara hujan di luar dan mesin pendingin kecil di sudut ruangan.
Laras menghembuskan napas panjang.
Lalu duduk di meja pojok dekat jendela.
Meja Arkan.
Sudah hampir seminggu Arkan tidak datang pagi lagi.
Meeting.
Target.
Perjalanan kantor.
Dan Laras mulai hafal pola itu.
Awalnya ia selalu menunggu.
Sekarang…
Ia mulai terbiasa tidak berharap terlalu banyak.
Ponselnya menyala.
Pesan dari Arkan masuk.
Laras membaca beberapa detik sebelum membalas.
Balasan datang cepat.
Dada Laras langsung terasa hangat kecil.
Refleks.
Masih sama seperti dulu.
Dua puluh menit kemudian, pintu kedai terbuka.
Arkan masuk dengan jas gelap yang sedikit basah karena hujan.
Wajahnya terlihat lelah.
Sangat lelah.
“Hai,” katanya pelan.
“Hai.”
Laras berdiri perlahan.
Dan untuk beberapa detik—
Mereka hanya saling melihat.
Sudah beberapa hari mereka tidak benar-benar bertemu lama.
Hanya telepon singkat.
Pesan singkat.
Percakapan yang cepat selesai karena salah satu terlalu sibuk atau terlalu lelah.
“Kamu makan belum?” tanya Arkan.
“Belum.”
“Aku bawain makanan.”
Ia mengangkat paper bag kecil dari restoran langganan mereka.
Mereka akhirnya duduk berhadapan di meja pojok.
Sama seperti dulu.
Tapi suasananya tidak lagi sama.
Arkan melepas jasnya perlahan.
Melonggarkan dasi.
Dan Laras baru sadar—
Pria itu terlihat jauh lebih kurus.
“Kamu kurang tidur ya?” tanyanya pelan.
Arkan tertawa kecil.
“Kelihatan?”
“Kelihatan banget.”
“Lagi banyak kerjaan.”
Jawaban itu terdengar biasa.
Terlalu biasa.
Seolah mereka sudah terlalu sering mengulang percakapan yang sama.
Laras membuka kotak makan pelan.
Aroma nasi goreng hangat langsung memenuhi meja.
“Mas harus terus lembur?”
Arkan mengangguk sambil memijat pelipisnya.
“Persiapan proyek Singapura makin gila.”
Kalimat itu langsung membuat suasana sedikit berubah.