Kopi Pahit dan Janji Manis

Erfi Ulul Azmi
Chapter #36

Bab 36

Jakarta kembali sibuk seperti biasa.

Hari-hari berjalan cepat.

Terlalu cepat.

Dan tanpa sadar—

Hubungan Laras dan Arkan mulai ikut berubah mengikuti ritme hidup masing-masing.

Bukan karena mereka bertengkar besar.

Bukan karena ada orang ketiga.

Bukan juga karena rasa sayang itu hilang.

Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih menyakitkan.

Karena mereka masih saling cinta.

Tapi perlahan…

Mereka mulai hidup di dunia yang berbeda.

Pagi itu Laras Kopi ramai sejak jam tujuh.

Menu seasonal baru buatan Laras mulai banyak dicoba pelanggan. Kopi Flores susu aren dengan hint caramel ringan itu bahkan beberapa kali masuk story pelanggan di media sosial.

“Lar! Ada yang nanya menu baru lagi!” seru Rina.

“Iya bentar!”

Laras bergerak cepat dari meja ke meja sambil membawa dua cangkir kopi.

Pipinya sedikit merah karena lelah.

Tapi matanya terlihat hidup.

Dan itu membuat Rina diam-diam tersenyum.

Sudah lama ia tidak melihat sahabatnya sesemangat ini terhadap hidupnya sendiri.

“Eh, nanti sore jadi meeting sama Mas Bimo?” tanya Rina santai sambil menyusun pastry.

Laras mengangguk.

“Iya. Mau bahas supplier baru.”

“Wih sibuk.”

Laras tertawa kecil.

“Namanya juga usaha.”

Kalimat itu terdengar ringan.

Normal.

Tapi tanpa mereka sadari—

Di saat yang sama, Arkan sedang duduk di ruang meeting kantornya dengan kepala penuh.

Presentasi besar terpampang di layar.

Semua orang membahas timeline perpindahan ke Singapura.

Apartemen.

Visa kerja.

Struktur tim baru.

Dan Arkan…

Mulai merasa sesak hanya dengan mendengarnya.

“Arkan?”

Daniel menepuk meja pelan.

“You okay?”

Arkan tersadar.

“Hm? Yeah.”

“Lo kosong banget dari tadi.”

Arkan mengusap wajahnya perlahan.

Kurang tidur mulai terlihat jelas di bawah matanya.

“Ada masalah sama Laras?”

Pertanyaan itu membuat Arkan diam beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

Pahit.

“Masalahnya justru… kita nggak lagi banyak masalah.”

Daniel mengernyit bingung.

“Terus?”

Arkan menatap layar presentasi kosong di depannya.

“Kita mulai biasa aja.”

Dan kalimat itu terasa jauh lebih menakutkan dibanding pertengkaran apa pun.

Karena dulu—

Laras selalu mengabari hal-hal kecil.

Tentang pelanggan lucu.

Tentang resep gagal.

Lihat selengkapnya