Hari Minggu biasanya menjadi hari favorit Laras.
Karena kedai lebih santai.
Pelanggan datang lebih pelan.
Musik akustik mengalun lebih tenang.
Dan dulu—
Hari Minggu sering berarti Arkan akan datang lebih lama.
Duduk di meja pojok sambil membantu mencatat stok, mencicipi menu baru, atau sekadar menemani Laras sampai malam.
Tapi Minggu kali ini berbeda.
Pukul sembilan pagi, Laras sudah sibuk sendiri di balik counter.
Rina izin libur karena menghadiri ulang tahun keponakannya.
Jadi hari itu Laras mengurus semuanya sendirian.
Dan anehnya—
Ia menikmati itu.
Tidak mudah.
Tapi menenangkan.
Ponselnya sejak pagi sepi.
Tidak ada pesan dari Arkan.
Tidak ada telepon.
Laras beberapa kali refleks melirik layar.
Lalu cepat-cepat memalingkan pandangan lagi.
“Jangan nungguin terus,” gumamnya kecil pada diri sendiri sambil mengelap gelas.
Bel pintu berbunyi.
Beberapa pelanggan masuk.
Hari kembali berjalan.
Menjelang siang, kedai mulai sedikit ramai.
Laras bergerak cepat melayani semua orang sendirian.
Keringat mulai muncul di pelipisnya.
Tapi ia tetap tersenyum.
Sampai tiba-tiba—
Bel pintu berbunyi lagi.
Dan Arkan masuk.
Laras yang sedang membuat latte langsung berhenti sepersekian detik.
Jantungnya masih bereaksi sama.
Selalu sama.
Arkan terlihat lelah.
Kemeja putihnya sedikit kusut.
Rambutnya berantakan.
Seperti seseorang yang kurang tidur beberapa malam.
“Hai,” katanya pelan.
“Hai.”
Untuk beberapa detik—
Mereka hanya saling menatap.
Dan ada rasa aneh yang tidak bisa dijelaskan.
Bukan canggung.
Bukan juga nyaman seperti dulu.
Sesuatu di tengah-tengah.
“Kamu sendirian?” tanya Arkan sambil melihat sekitar.
“Rina libur.”
“Aku bantu.”
Jawabannya terlalu cepat.
Refleks.
Seperti dulu.
Dan untuk sesaat—
Laras hampir bilang:
iya, bantu aku ya.
Tapi akhirnya ia hanya tersenyum kecil.
“Gapapa. Aku masih bisa handle.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup membuat langkah Arkan terhenti kecil.
Karena dulu—
Laras selalu membiarkannya masuk ke dunianya tanpa ragu.
Sekarang…