Senin pagi datang dengan langit mendung.
Jakarta belum benar-benar hujan, tapi udara terasa berat sejak subuh. Jalanan Kemang lebih macet dari biasanya, dan suara kendaraan terdengar samar dari balik kaca Laras Kopi.
Laras membuka kedai seperti biasa.
Menyalakan lampu.
Merapikan kursi.
Menyiapkan mesin espresso.
Tapi pagi itu—
Hatinya terasa tidak tenang.
Semalam setelah Arkan pulang, ia hampir tidak bisa tidur.
Pelukan pria itu masih terasa hangat di tubuhnya.
Dan kalimat terakhirnya terus terngiang di kepala.
Untuk pertama kalinya—
Laras benar-benar sadar bahwa Arkan juga sedang hancur pelan-pelan.
Bukan hanya dirinya.
“Pagi, Lar.”
Rina masuk sambil membawa kantong sarapan.
“Pagi.”
Rina langsung memperhatikan wajah sahabatnya.
“Kamu nangis semalam?”
Laras langsung menggeleng cepat.
“Nggak.”
“Bohong.”
Laras tertawa kecil lemah.
Dan itu sudah cukup jadi jawaban.
Rina menghela napas pelan.
Lalu berjalan mendekat dan memeluk Laras sebentar.
“Capek ya?”
Kalimat sederhana itu langsung membuat dada Laras terasa penuh.
“Iya,” jawabnya lirih.
Bukan capek bertengkar.
Karena mereka bahkan jarang bertengkar.
Yang melelahkan adalah…
Mencintai seseorang sambil bersiap kehilangan dia sedikit demi sedikit.
Pagi mulai ramai.
Pelanggan berdatangan seperti biasa.
Dan Laras kembali sibuk di balik counter.
Tapi hari itu—
Ia lebih sering melamun.
Lebih sering menatap pintu.
Lebih sering kehilangan fokus sesaat.
“Lar, latte meja dua,” bisik Rina pelan mengingatkan.
“Hah? Oh iya.”
Rina memperhatikan semua itu diam-diam.
Dan semakin ia melihat—
Semakin ia tahu Laras belum sekuat yang ia tunjukkan.
Sekitar jam sebelas siang, ponsel Laras berbunyi.
Pesan dari Arkan.
Jantung Laras langsung berdetak lebih cepat.
Tangannya refleks mengetik cepat.
Balasan datang hampir langsung.
Laras menatap layar ponselnya cukup lama.
Perutnya tiba-tiba terasa kosong.
Karena mereka berdua tahu—
Meeting itu bisa menentukan segalanya.
“Mas Arkan?” tanya Rina hati-hati.
Laras mengangguk kecil.
“Meeting final.”
Rina langsung diam.
Tidak tahu harus bilang apa.