KORBAN PESUGIHAN

Arata Kaivan
Chapter #2

KEPUTUSAN

Suara ketukan pintu kos Hana mengakhiri keheningan malam yang sempat menggantung. Hana duduk bersimpuh di depan tas ransel terbuka dengan tumpukan kaus katun di tangannya. Ia berdiri, berjalan ke arah pintu.

Pintu kamar kos terbuka, Reza berdiri paling depan, tangannya menenteng kantong plastik hitam berisi kaleng minuman soda dan bungkusan nasi goreng pinggir jalan yang masih mengepulkan uap tipis. Di belakangnya, Naya, Dito, Siska, dan Evan berjejalan di lorong sempit kos.

"Lo beneran pulang malam ini?" Reza melangkah masuk. Ia meletakkan kantong plastiknya di atas meja belajar Hana yang penuh tumpukan kertas.

Hana mengerjap, menatap satu per satu temannya yang mulai memenuhi sudut ruangan kamar kosnya. Siska melangkah masuk paling terakhir, menutup pintu rapat-rapat, lalu berjongkok di samping Hana, membantu merapikan pakaian yang berserakan di lantai.

"Besok pagi," jawab Hana singkat. "Gue berangkat besok pag."

"Nah, bagus. Berarti kita punya waktu buat nongkrong dan nemenin lo beres-beres." Reza menarik kursi belajar Hana, lalu duduk dengan posisi terbalik, dadanya menempel di sandaran kursi. "Santai aja. Kita nggak bakal ganggu."

"Lo barusan bilang mau nongkrong," sahut Naya dari belakang.

"Itu beda. Nongkrong bukan ganggu."

Dito mengangkat alis. "Menurut lo."

Reza menoleh. "Lo jangan ikut-ikutan."

"Kalian... ke sini malam-malam gini cuma buat nemenin gue?" Hana menatap Siska yang kini melipat jaketnya dengan telaten.

"Kita cuma mau mastiin lo nggak sendirian ngadepin kamar sekecil ini setelah dapet kabar duka," kata Siska lembut.

"Nggak. Jujur aja, selain itu kita juga lapar." Reza merobek karet gelang bungkusan nasi goreng.

Naya meletakkan tas laptopnya di sudut kasur busa, Dito duduk bersandar di dinding dekat jendela. Evan berdiri paling belakang, tatapannya menyapu permukaan lantai kos, sela-sela meja, hingga tumpukan buku di rak tanpa menatap langsung ke arah Hana.

Reza menyodorkan bungkus nasi goreng ke Hana. "Lo makan."

"Gue belum lapar."

"Justru itu. Makan dulu sebelum nanti masuk kereta terus baru bilang lapar."

Hana menerima bungkus itu tanpa membantah.

Siska melirik Reza. "Tumben perhatian."

"Gue cuma nggak mau dia pingsan terus kita yang repot."

"Ya, kan perhatian."

Reza mengangkat bahu dan kembali mengambil sendok plastiknya.

Bungkusan nasi goreng itu berpindah tangan di antara mereka dalam diam selama beberapa menit. Aroma bawang goreng dan kecap manis memenuhi ruangan berukuran tiga kali tiga meter tersebut.

Naya merapatkan duduknya di lantai, memeluk lututnya sendiri, lalu menatap Hana. "Bokap lo tadi bilang penyebab pastinya apa?"

Hana menghentikan gerakannya yang sedang melilit kabel charger ponsel. "Jantung. Katanya kambuh mendadak pas dia lagi di gudang belakang rumah."

Reza mengangguk, menatap kaleng sodanya. "Berarti mendadak banget?"

Lihat selengkapnya