Udara pukul setengah enam pagi di area stasiun masih menyisakan hawa dingin yang menusuk. Gema suara penyiar dari pelantang suara berbaur dengan derit roda koper di atas lantai. Naya berdiri di dekat pilar peron, berulang kali mengetukkan ujung ponsel ke telapak tangannya sambil menatap ke arah pintu masuk utama. Dito berjongkok di dekat tiang, mengelap lensa kameranya dengan kain mikrofiber, sementara Siska berdiri di samping Hana, menahan tali dua tas bawaan yang cukup besar.
Reza melangkah dari arah pintu putar, berjalan santai, menenteng kantong plastik minimarket.
Naya mengangkat ponselnya tepat di depan wajah Reza. "Gue udah bilang kumpul jam enam."
Reza menurunkan kantong plastiknya. "Gue datang sebelum enam."
Naya menekan tombol kunci ponsel hingga layarnya menyala terang. "Enam lewat tujuh."
Reza melirik sekilas. "Jam lo kecepetan."
Dito menyela tanpa mengalihkan mata dari lensa kamera. "Jam lo rusak."
Siska tertawa pendek. Hana ikut tersenyum.
"Gue beli kopi dulu di ujung sana." Evan menunjuk deretan kios makanan di sayap kiri stasiun yang sudah mulai dipenuhi calon penumpang.
Evan memisahkan diri dari kelompok, berjalan menyusuri peron. Aroma roti panggang dan kopi instan menguar dari deretan kios. Ia berhenti di depan kedai kecil, menunggu penjual menuangkan air panas ke dalam enam gelas kertas.
Pandangannya tanpa sengaja menatap seorang kakek tua duduk sendirian di bangku panjang peron, tepat di seberang kedai. Kedua tangannya bertumpu di atas tongkat kayu. Matanya menatap lurus ke arah Evan tanpa berkedip.
Evan menerima nampan karton berisi enam gelas kopi, lalu membalas tatapan itu sekilas sebelum memutuskan untuk berbalik.
"Kamu ikut anak-anak itu?" Suara parau kakek itu terdengar jelas meski terpotong oleh kebisingan stasiun.
Evan menghentikan langkahnya. Ia menoleh. Kakek itu tidak mengubah posisi duduknya, dagunya mengarah tipis ke gerombolan Hana dan teman-temannya di kejauhan.
Evan mengerjap. "Iya."
Kakek itu menggeleng pelan. "Jangan berangkat."
Alis Evan bertaut. "Kenapa, Kek?"
Kakek itu mengangkat sebelah tangannya yang keriput, mencengkeram ujung tongkat kayunya lebih erat. "Kalau sudah sampai sana... jangan pulang terlalu malam."
Evan melangkah mendekat. "Maksudnya?"
"Jangan bawa teman-temanmu ke tempat yang nggak lagi mengenal kalian."
"Ke mana?"
Suara bel peringatan kereta masuk menggema nyaring dari pengeras suara tepat di atas kepala Evan, disusul derak besi roda kereta yang bergesekan dengan rel baja. Evan menoleh ke arah sumber suara, ia menyipitkan mata menghindari debu stasiun yang berterbangan.
Evan menoleh kembali ke arah bangku panjang tersebut, kakek itu sudah menghilang. Ia menatap bangku kosong, lalu berjalan kembali menuju kelompoknya.
"Van, lo ke mana aja sih? Beli kopi kayak nunggu panen," protes Reza begitu Evan menyerahkan satu gelas kepadanya.
"Nggak apa-apa," jawab Evan singkat.
Alis Reza bertaut. "Nggak apa-apa gimana?"
Evan melirik ke belakang, ke arah kerumunan orang yang bergerak naik ke kereta. "Lupain aja."
Roda besi kereta berderak konstan membelah jalur rel ke luar kota. Di dalam gerbong, pendingin ruangan berembus pelan. Reza duduk berhadapan dengan Hana, kakinya selonjor menabrak ujung sepatu Naya. Siska duduk di sebelah Hana, membuka bungkus makanan ringan. Dito menempelkan kepalanya ke kaca jendela, sementara Evan duduk bersandar, mengamati lanskap yang berlari mundur.
Reza meletakkan gelas kopinya di meja kecil lipat. "Lo terakhir pulang kapan, Han?" Ia menatap Hana yang dari tadi membuang pandangannya ke luar jendela.
"Lumayan lama," jawab Hana tanpa menoleh.
"Berapa lama?"
Hana mengetukkan jarinya di atas paha. "Tiga tahun."
Siska menghentikan kunyahannya, menoleh cepat ke arah Hana. "Tiga tahun?"