Meja makan ini altar jagal. Permukaannya jati tua yang dipolitur mengilap, tapi bagiku, ini tempat penyembelihan. Ayah duduk di ujung. Tegak. Punggungnya kaku seperti menara batu yang mau runtuh, tapi menolak ambruk. Dia pegang sendok perak seolah itu belati yang siap membedah isi kepalaku. Ting. Ting. Ting. Suara logam nabrak piring porselen retak itu bising sekali. Tiap dentingnya terasa seperti palu yang memaku peti matiku. Vonis mati yang dirayakan pelan-pelan.
"Sarjana Sastra," desis Ayah.
Kopinya mengepul, tapi mulutnya jauh lebih panas. Dia menatap nasi di piringnya seolah setiap butirnya adalah utang yang aku tumpuk di pundaknya. "Empat tahun aku peras keringat di ladang cabai. Kulitku legam, tanganku kapalan cuma buat kasih makan parasit yang kerjanya melamun depan laptop. Kau pikir puisi bisa tambal atap bocor, Sastra? Kau pikir diksi-diksi sampahmu itu bisa bayar cicilan bank?"
Aku diam. Mulutku penuh aspal panas. Mati rasa. Aku ingin bilang kalau aku sedang berjuang, tapi di rumah ini, kerja hanya diakui kalau ada peluh yang menetes ke tanah atau seragam yang dipajang di lemari.
Ibu? Dia ada di sana, tapi jiwanya sedang disedot layar ponsel. Cahaya biru dari layarnya bikin mukanya pucat, mirip mayat yang baru bangkit dari kubur tapi lupa cara bernapas. Dia mendesah, tipe desahan narsistik yang minta dikasihani seluruh dunia.
"Lihat foto ini," kata Ibu, menyodorkan ponsel ke depanku. "Anak Pak RT. Seragamnya licin, cokelat, gagah. Kemarin dia belikan ibunya emas seberat jempol. Pak RT sudah jadi 'orang'. Kamu? Cuma bikin malu. Kalau tetangga tanya kerja apa, aku harus telan ludah sendiri sampai serak. Jawabannya selalu sama, sedang menulis. Menulis apa? Menulis surat miskin?"