Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #2

BAB 2: GANG YANG PUNYA INGATAN

Dunia luar ternyata cuma perpanjangan tangan Ayah. Sama sempitnya. Sama menyesakkannya.

Aku mendarat di atas tanah ladang yang becek. Plok. Suara sol sepatuku menghantam lumpur terdengar seperti makian yang tertahan di tenggorokan. Bau pupuk kandang yang busuk bercampur sisa pestisida langsung menyengat, yaitu bau ketiak nasib yang enggak pernah mandi, bau kerja keras yang hanya menghasilkan benci. Aku berlari menembus barisan tanaman cabai yang tingginya sepinggang. Di bawah cahaya bulan yang pucat dan sakit, buah-buah cabai yang merah membara itu tampak seperti ratusan ujung jari yang menunjuk-nunjuk ke arahku. Mereka seolah berteriak: Anak durhaka! Pelarian! Sarjana sampah!

Aku terus berlari sampai aspal kampung yang pecah-pecah menyentuh kaki. Desa ini sudah mati jam dua pagi. Lampu-lampu jalan berkedip dengan ritme yang payah, mirip detak jantung pasien sekarat yang dipaksa hidup oleh mesin. Cetik... cetik... sunyi. Tiap kedipan lampu itu seolah-olah berusaha memotret wajah ketakutanku untuk dilaporkan kembali ke meja makan rumah.

Kukeluarkan sobekan kertas kuning gading dari saku. Teksturnya kasar kayak kulit mati. Di sana, tulisannya tampak seperti rembesan darah kering yang membeku: "Cari gang yang enggak dilewati matahari. Masuklah saat kau merasa tak lagi punya bayangan."

Aku sampai di pinggiran kota, wilayah yang tak pernah masuk dalam memori masa kecilku. Gang-gang sempit di sini saling berhimpitan, mirip deretan gigi raksasa yang bolong dan membusuk. Aku masuk ke salah satunya. Tembok-temboknya lembap, tertutup lumut hitam yang tampak seperti bulu-bulu halus yang bergerak pelan kalau kena napas. Aku merasa seperti sedang berjalan masuk ke dalam kerongkongan monster yang sedang tertidur lelap.

Anehnya, semakin jauh aku melangkah, suara kota, deru motor yang samar atau gonggongan anjing, perlahan lenyap. Sunyi yang mutlak. Sunyi yang begitu padat sampai telingaku berdenging, seolah-olah udara di dunia ini sedang disedot habis oleh vakum raksasa.

Lihat selengkapnya