Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #3

BAB 3: KOPI TANPA AMPAS

Melangkah melewati ambang pintu itu rasanya seperti menelan gumpalan kabut. Dingin, basah, dan membuat paru-paruku sejenak lupa cara memompa oksigen.

Aku tidak sedang berada di dalam sebuah gedung. Aku berada di dalam sebuah lorong yang tidak punya ujung. Dinding-dindingnya dari tumpukan buku-buku tua yang sampulnya sudah mengelupas seperti kulit penderita kusta. Cahaya di sini datang dari sela-sela rak buku yang memancarkan pendar kuning redup, serupa warna mata kucing yang sedang mengawasi mangsa di kegelapan.

Di tengah lobi yang luasnya tidak masuk akal itu, duduk seorang lelaki tua di balik meja biro kayu jati. Ukiran sulur di meja itu bergerak-gerak pelan, meliuk seolah-olah kayu itu masih punya getah dan nyawa.

Lelaki itu, Mbah Jati sedang menyeduh kopi. Bau kopinya aneh; tidak ada aroma gosong, yang ada hanyalah aroma kenangan yang baru saja digiling. Matanya terus menatap uap yang mengepul dari cangkir porselen retaknya, bahkan aku pun tidak ditatap olehnya.

"Duduk, Sastra. Kursi di belakangmu tidak akan menggigit, kecuali kau membawa terlalu banyak dosa di pundakmu," ucapnya. Suaranya berat, bergetar seperti bunyi dawai bass yang dipetik di ruang hampa.

Aku menoleh. Sebuah kursi kayu tiba-tiba sudah ada di sana, tepat di belakang lututku. Aku duduk dengan ragu. Kayunya terasa hangat, seolah kursi itu memiliki suhu tubuh manusia yang baru saja bangkit.

"Bagaimana Anda tahu namaku?" tanyaku. Suaraku terdengar kerdil, gemetar.

Lihat selengkapnya