Kos Mukasyafah, Tempat Penantian yang Hangus

Arief Rahmanto
Chapter #4

BAB 4: KAMAR YANG MENYEMBELIH INGATAN

Ijazah. Ribuan lembar kertas sialan itu mengalasi tangga ini. Setiap kali tumitku menekan, ada suara jeritan, bahkan suara kertas yang disobek paksa. Tajam. Menusuk telinga. Aku sampai di pintu nomor 13. Angkanya tidak dipaku. Angka itu tertanam, berkarat, seperti paku yang dipaksa masuk ke daging kayu. Ada lelehan merah tua di bawahnya. Darah lama.

Kunci kuningan itu berputar. Krek. Suara tulang leher yang patah. Kering.

Bau itu langsung menghantam. Bau daging hangus. Seseorang sedang memanggang trauma di dalam sini. Dan kamarku? Kamar ini tidak lagi punya dinding putih. Dindingnya kulit manusia. Berdenyut. Hangat yang menjijikkan. Keringat dingin merembes dari sela-sela pori-pori semen. Aku masuk ke dalam perut raksasa yang sedang demam.

Pintu membanting sendiri. Brak! Bahuku hampir copot. Tidak ada jendela. Di tempat yang seharusnya ada pemandangan ladang cabai, hanya ada cermin raksasa. Bingkainya? Tulang rusuk manusia, masih ada tanah merah yang menempel. Segar.

Laptop di meja tulis itu menyala. Sial.

Layarnya menyemburkan panas. Videonya berputar lagi. Aku di meja makan. Ayah, wajahnya sudah jadi gumpalan abu tanpa mata. Ibu, jarinya jarum semua, sibuk menusuk-nusuk layar ponsel. Videonya melambat. Krek... krek... Aku bisa dengar naskahku merintih saat api kompor itu mulai mengunyah kertasnya.

Lihat selengkapnya